Kalian bikin diskusi sepakbola di sana-sini, tapi kalian tidak pernah menggelar diskusi, bagaimana klub-klub sepakbola bisa hidup? Pembinaan klub-klub bisa jalan? Dan permasalahan-permasalahan lainnya yang lebih mendasar, agar orang yang punya hobi bangun sepakbola itu banyak bermunculan, dengan ide-ide cemerlang di Maluku.
Tapi jika kalian tinggal bertahan dengan pemikiran saat ini, jangan berharap sepakbola Maluku bakal memiliki klub-klub yang bisa batahan bertahun-bertahun. Persatuan Sepakbola Makassar (PSM) saja KO. Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (Persib) yang tempelan banyak di jersey saja KO. Lah ini klub-klub amatiran di Maluku. Harap sponsorship? Siapa tertarik?
Antusiasme masyarakat sepakbola Maluku basar, hanya tidak terlalu menarik untuk investor pemilik sponsor dan dana.
Lantas kami netizen sepakbola Maluku ini cuman tahunya cibir sana sini, hantam sana sini, tanpa pikir perjuangan orang-orang itu selama ini. Wajar, mereka bikin sesuai cara mereka. Wong itu itu uang mereka. Anggaran mereka. Klub Bola mereka. Coba kita seperti mereka, pasti juga seperti mereka begitu. Jadi yang perlu kita kritisi adalah, “Sistem Pengembangan Sepakbola di Maluku”.
Ada kompetisi, ada tim, ada pemain, ada juara, ada perwakilan daerah, nasional, lantas kita berpikir sistemnya sudah berjalan baik? Ohh.. belum tentu! Coba tanya stakeholder yang terlibat, apa yang mereka korbankan selama menjadi bagian dalam “sistem” itu? Nol besar, instan, setengah mati, timbul tenggelam, stop lah, sudah capek. Itu beberapa kata-kata yang ada di benak mereka.
Tapi apa? Semua ada di benak, namun ketika “ada lagi”, kami ikut lagi. Karena kami memiliki rasa cinta buat generasi anak Maluku, generasi sepakbola Maluku, dan sebagainya hingga titik akhir usaha.
Ini yang orang selalu bilang, “urus bola itu hanya orang gila”. Tidak semua yang urus bola itu benar-benar ikhlas buat mengurus bola. Hanya nereka yang “Gila Bola” bukan “Gila Cari Untung di Bola”.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



