Kini, semangat itu sampai kepada kita, anak-anak muda Maluku, khususnya Ambon, sebagai warisan yang tak ternilai. Sebuah panggilan untuk menjaga api perjuangan itu agar tetap menyala, bukan hanya dalam ingatan, tetapi juga dalam tindakan dan pengabdian bagi negeri.
Sumpah Pemuda dan Suara dari Timur
Mari kita sejenak berefleksi tentang Sumpah Pemuda. Karena kita hidup di Ambon, mari pula kita mencoba berandai-andai: jika sejarah itu ibarat laut, maka Sumpah Pemuda adalah ombak besarnya.Dari ombak besar itu, seluruh arus pun bersatu —dari barat hingga timur, dari mereka yang tinggal di pesisir, hingga yang menetap di bawah dan di atas gunung —semuanya digerakkan oleh semangat yang sama: semangat yang membawa nyala matahari pagi.
Dan di antara segala riuh ombak itu, gema persatuan juga datang dari timur. Lembut tapi teguh, ia menjelma dalam suara anak-anak Ambon di bawah payung gerakan Jong Ambon, yang menyanyikan persaudaraan dalam nada yang khas — nada yang menembus batas pulau dan perbedaan, mengalun seperti lagu laut yang memanggil semua anak bangsa untuk menjadi satu.
Di tanah ini — di kota yang dijuluki Ambon Manise — persatuan bukan sekadar kata-kata. Ia telah melekat menjadi falsafah hidup yang dikenal sebagai “Pela Gandong”, sebuah ikatan yang lahir melampaui batas suku dan agama. Dari falsafah inilah kita belajar bagaimana orang-orang terdahulu menjahit luka dengan kasih, menyembuhkan perbedaan dengan rasa persaudaraan.
Sebelum Jawa mengenalkan kita pada makna “guyub rukun” dan “gotong royong,” para pendahulu di tanah Maluku telah lebih dulu memberi teladan melalui nilai-nilai “Potong di kuku, rasa di daging” dan “Sagu salempeng tabage dua.” Bukankah di sanalah sesungguhnya tersimpan makna sejati dari Sumpah Pemuda -tentang satu rasa, satu jiwa, dan satu tekad untuk hidup bersama dalam perbedaan?
Ambon bukan hanya menjadi bagian penting dalam sejarah Sumpah Pemuda, tetapi juga menjadi sumber dari denyut bahasa yang menyatukan bangsa. Dari negeri ini, dari lidah dan tutur orang-orang Maluku, mengalir sebuah bahasa yang kelak menjadi perekat kebangsaan -bahasa yang hari ini kita kenal sebagai Bahasa Indonesia, yang berakar dari bahasa Melayu.
Sejak dahulu, bahasa ini telah hidup dan bergumul dalam percakapan sehari-hari masyarakat Ambon —di pasar-pasar yang riuh, di pelabuhan-pelabuhan tempat kapal bersandar, dan di antara sapaan hangat yang menyeberangi pulau-pulau. Bahasa itu kemudian menemukan nadanya sendiri: lembut, hangat, dan penuh persaudaraan. Sebuah nada yang lahir dari timur, namun mampu merangkul seluruh Nusantara.
Refleksi Penutup : Ambon, Jakarta dan Indonesia
Dari semua yang telah terurai di atas, sudah sepatutnya Jakarta tidak melupakan Maluku. Indonesia semestinya berbangga memiliki Maluku — tanah yang dahulu rela menanggung luka, demi hadir dan membersamai Jakarta serta seluruh Indonesia.
Rakyat Maluku telah berjuang, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk memastikan Indonesia tetap hidup dalam persatuan. Sebab persatuan bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan nyanyian yang harus terus kita lantunkan hari ini.
Jejak mereka yang pernah terluka dalam perjalanan bangsa tidak hanya tercatat di buku-buku sejarah, tetapi juga hidup dalam ingatan dan menyala di dada generasi mudanya – mereka yang terus memelihara keberanian Pattimura, kelembutan Martha Christina Tiahahu, dan semangat persaudaraan Pela Gandong.
Selama nyala itu dijaga, semangat Ambon akan terus hidup — sebab dari Ambon, Indonesia belajar makna sejati dari kata bersatu. Dan sungguh, Jakarta tidak akan pernah menjadi Jakarta jika di dalamnya tidak ada Ambon yang turut bernyanyi untuk Indonesia.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



