Pendapat

Nasrul, Kamus Asal, dan Logo-Logo Berkonsep Aksara Lontaraq

PENDAPAT

Slang, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan sebagai ragam bahasa tidak resmi dan tidak baku yang sifatnya musiman, dipakai oleh kaum remaja atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern dengan maksud agar yang bukan anggota kelompok tidak mengerti.

Ada pula yang menyebutnya bahasa prokem. Kamus bahasa prokem yang cukup terkenal disusun oleh Debby Sahertian, salah seorang personel Lenong Rumpi.

Uniknya, “Kamus Asal” yang dibuat Nasrul sangat kental konten lokalnya. Anak muda Makassar era 90an mungkin ingat pada stiker-stiker produksi Mawar Advertising, yang gaul dan gaya.

Stiker hasil kreasi Mawardi itu, rada-rada mirip dengan permainan kata-kata Dagadu di Yogyakarta dan Joger dari Bali.

Seperti apa “Kamus Asal” itu? Ini sample-nya. “Sotta” dan kawannya. Sotta kini jadi sebutan kepada orang yang sok tahu. Pelaku sotta biasanya menjawab ataupun menjelaskan sesuatu dengan cepat, tangkas.

Namun yang dijawab atau dijelaskan itu salah. Pernah pula digunakan “steja”, yang maknanya mirip dengan ini, menunjukkan kalau seseorang itu hanya stel jago.

Sementara “bacrit” untuk orang yang banyak carita tanpa hasil. Selevel dengan “bacrit” ada “loca” alias lompo carita untuk orang yang hanya besar di omongan.

Contoh lain, yang ia tulis pada “Kamus Asal” adalah kata “Lece” (biasanya orang menyebut palece atau ni palecei, pen). Kata “lece” termasuk yang hampir hilang karena jarang lagi digunakan dalam percakapan sehari-hari di Makassar.

Maknanya, “orang yang ingin dipuji”. Setelah itu orang mengenal kata “kapujiang” dan “pujiale”. Kedua kata ini juga terdengar sayup-sayup, setelah kata ‘talekang” mendominasi.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button