Manusela: Gunung, Gairah, dan Gugurnya Rasa Empati
Search and Rescue Unit (SRU) 1, berisi sembilan personel, menjadi ujung tombak misi ini. Mereka bergerak menuju Pos Nasapeha, lokasi terakhir Firdaus terlihat. Mereka bermalam di Pos 4, menyusuri batas-batas alam yang tidak hanya liar, tapi juga penuh misteri. Menunggu SRU 2, 3, dan 4 yang dijadwalkan menyusul keesokan harinya.
Sementara itu, dari Kota Ambon, sembilan relawan bergerak membawa perlengkapan vertical rescue, tandu, P3K, peta operasi, hingga peralatan standar pendakian. Dari Kota Masohi, tiga orang menyusul ke Posko SAR di Negeri Piliana, titik koordinasi utama.
Dan di tengah semua itu, di luar hutan dan jauh dari gemuruh ranting yang patah, ada denyut lain yang tak kalah penting: denyut solidaritas sipil. Forum Komunikasi Pencinta Alam Maluku (FKPAM) menggelar aksi kemanusiaan yang menyentuh.
Di perempatan patung pahlawan nasional Johanes Leimena, Jalan Ir. M. Putuhena, Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, para relawan berdiri di bawah panas matahari, membawa kotak donasi dan harapan.
Aksi galang dana ini dimulai sejak Selasa, 13 Mei 2025, dan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Mereka tahu betul, pencarian seperti ini butuh lebih dari sekadar semangat logistik pun harus berjalan.
Dan yang lebih menyentuh: meski logistik terbatas, semangat tak pernah surut. Tim relawan dan masyarakat adat telah lebih dulu bergerak sejak Senin, 12 Mei 2025.
Masih ada harapan bahwa Firdaus, pemuda 27 tahun itu, bisa ditemukan. Semoga dalam kondisi selamat. Karena dalam setiap langkah pencarian, terselip doa dari orang-orang yang bahkan tak mengenalnya secara pribadi.
Empati bukan datang dari papan nama atau seragam dinas. Empati lahir dari sense terhadap ruang hidup, dari kesadaran bahwa alam bukan sekadar aset wisata. Dalam hal ini, masyarakat adat menang telak. BTN Manusela? Yah, mungkin mereka masih sibuk menyusun jadwal rapat atau mencari sinyal Wi-Fi di kantor pusat.
Kasus Firdaus menguak kegagapan negara dalam memahami esensi dari pengelolaan alam: bahwa melindungi kawasan tidak cukup hanya dengan pagar batas dan surat keputusan, tapi juga dengan hati. Dan, oh, betapa memalukannya ketika masyarakat adat yang tidak digaji itu justru bergerak lebih dulu dibanding lembaga yang disokong APBN.
Firdaus belum ditemukan. Tapi pencarian ini telah menemukan sesuatu yang lebih dalam: wajah empati yang sesungguhnya. Sebuah potret yang mungkin tak akan kita lihat di laporan tahunan kementerian, tapi hidup dalam napas masyarakat adat Manusela.
Dan kini, pertanyaannya: apakah kita akan terus membiarkan lembaga-lembaga formal kehilangan nurani, sementara masyarakat adat terus menanggung beban moral tanpa pengakuan yang layak?
Cerita ini belum usai. Mungkin tak akan pernah benar-benar selesai, selama rasa empati masih dianggap opsional dan bukan fondasi dalam menjaga bumi.
Jika Anda merasa tersentil, mungkin memang sudah saatnya kita menggeser pusat empati dari meja-meja rapat ke hutan-hutan sunyi yang terus memanggil: Adakah yang benar-benar peduli?(Embong Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



