NasionalPendapatSeni Budaya

Literasi Seni Lewat Kesok-Kesok dan Kacaping di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara Takalar

Bersama Sanggar Siradjuddin, asuhan Siradjuddin Daeng Bantang (alm), ia pernah tampil di berbagai belahan dunia. Daeng Pata’ yang dikenal sebagai Pasinrilik itu, tercatat sudah pentas di 28 negara.

Haeruddin Ahar Daeng Nassa, yang lebih populer sebagai Pasinrilik, ternyata juga piawai meniup suling bambu. Pria asal Gowa, kelahiran 1970, ini pernah tampil di Istana Negara pada masa Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Bahkan, bersama Sanggar Sejati, ia beberapa kali ikut acara parade budaya, saat perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus.

“Saya sebelum dikenal sebagai Pasinrilik, lebih dahulu bermain suling tradisional, dan angngaru,” ungkap Daeng Nassa.

Daeng Nassa, sempat mengajukan pertanyaan kepada anak-anak yang hadir, apakah ada yang tahu nama alat musik yang dipegangnya?

kacaping 1

Anak-anak menggeleng. Tak ada satupun dari mereka yang mengacungkan tangan.

Daeng Nassa lantas menyampaikan bahwa alat musik gesek, yang bentuknya tampak seperti jantung atau daun keladi itu bernama kesok-kesok. Gesek dalam bahasa Makassar, artinya kesok.

Dua dawai dari alat musik itu digesek, sambil bertutur, dengan bahasa yang berirama.

Sinrilik, lanjut Daeng Nassa, merupakan seni tradisi lisan yang dibawakan secara naratif, berisi sejarah atau legenda, sarat akan filosofi, dan pesan moral.

“Dahulu, selain untuk hiburan, sinrilik juga digunakan sebagai sarana menyampaikan pengumuman,” terang Daeng Nassa.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button