Maluku Utara

Lata-Lata dalam Horizon Alam: Catatan Etnografi dari Pulau Kecil yang Mengajarkan Ketangguhan

Padahal, harapan itu sesungguhnya ada. Sekitar 2,7 kilometer dari kampung terdapat Mata Air Gopasa, sebuah sumber air besar yang tidak pernah kering. Air terjun kecil mengalir sepanjang tahun. Namun keterbatasan infrastruktur membuat air itu belum mampu menjangkau rumah-rumah warga.

Akibat fenomena El Niño yang berkepanjangan, sebagian warga bahkan terpaksa menggali air payau di bibir pantai hanya untuk mandi, mencuci, dan menyikat gigi. Di tengah semua itu, beta selalu mengingat kalimat sederhana yang disampaikan Bapak Hendrik Jumati, seorang tokoh sekaligus sesepuh desa. “Semoga ada tangan Tuhan yang terulur melalui para pemangku kebijakan yang dapat menolong katong dari krisis air bersih ini.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada marah. Tidak pula dengan nada menuntut. Ia lahir sebagai doa. Doa yang dipanjatkan oleh seluruh masyarakat Lata-Lata. Doa yang tak pernah usai meski harapan itu butuh nafas panjang. Semoga ada manusia malaikat yang terketuk pintu hatinya, tergerak menolong 724 jiwa Lata-Lata mendapatkan fasilitas air bersih itu.

Terakhir, Sebuah Refleksi

Meninggalkan Lata-Lata,  menyadari bahwa sebuah desa tidak hanya dapat dibaca melalui angka-angka statistik atau laporan pembangunan. Desa juga dapat dibaca melalui cara masyarakatnya menjaga laut, merawat gotong royong, memelihara toleransi, menghormati alam, dan tetap tersenyum di tengah keterbatasan.

Lata-Lata mengajarkan bahwa kemajuan bukan semata-mata tentang infrastruktur, melainkan tentang manusia yang tetap memelihara nilai-nilai kemanusiaan. Di pulau kecil yang dikelilingi Laut Maluku itu, beta menemukan sebuah masyarakat yang tangguh, yang membangun dirinya dengan kerja bersama, menjaga alam sebagai sahabat hidup, serta memelihara harapan meskipun setiap hari masih harus mendayung perahu demi setetes air.

Dan barangkali, justru di sanalah makna sebuah peradaban kecil itu bertumbuh — di antara laut yang luas, gotong royong yang hidup, dan doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

lata-lata
Penulis, Pdt. Fridolin Robert Kwalomine.(Foto: Dok. Pribadi)

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button