Lata-Lata dalam Horizon Alam: Catatan Etnografi dari Pulau Kecil yang Mengajarkan Ketangguhan
Modal Sosial dan Filosofi Kerja sebagai Kekuatan
Kekuatan ekonomi masyarakat bertumpu pada dua komoditas utama: kopra dan cengkih. Namun sesungguhnya ada modal lain yang jauh lebih berharga daripada hasil kebun. Modal itu bernama Maurioriono, atau yang lebih dikenal sebagai Babari.
Maurioriono bukan sekadar tradisi gotong royong. Ia adalah cara pandang hidup. Dalam setiap pekerjaan besar, masyarakat berkumpul tanpa banyak perintah. Mereka bekerja bersama, berbagi tenaga, berbagi makanan, dan berbagi tanggung jawab. Tradisi ini telah menjadi modal sosial yang membuat masyarakat mampu bertahan menghadapi berbagai perubahan.
Beta teringat pemikiran sosiolog Robert D. Putnam tentang social capital. Sebuah masyarakat bertahan bukan semata karena uang atau sumber daya alam, melainkan karena kepercayaan, jaringan sosial, norma bersama, dan kesediaan untuk saling membantu. Di Lata-Lata, teori itu tidak sedang diajarkan. Ia sedang dipraktikkan.
Jika menggunakan istilah yang disebutkan oleh Hendri Bergson (filsuf Prancis) yakni homo faber (manusia pekerja) dan ditarik ke dalam pemikiran Karl Marx (filsuf Jerman) maka Maurioriono atau bekerja bersama bukan hanya aktivitas ekonomi dan sosial semata, melainkan juga proses membangun identitas, solidaritas, dan makna hidup. Barangkali karena itulah orang Lata-Lata dikenal gigih di tanah rantau. Mereka tidak hanya membawa keterampilan bekerja, tetapi juga membawa budaya saling menopang.
Orang Lata-Lata Peka Ekologi
Hubungan mereka dengan alam juga memperlihatkan kearifan yang menarik. Di depan kampung terdapat dua pulau kecil, Gurua dan Nusapao. Keduanya menyimpan potensi tambang nikel yang cukup besar. Namun ketika muncul rencana eksploitasi, masyarakat kompak memilih menolak. Alasannya sederhana, tetapi sangat ekologis.
Dua pulau kecil itu adalah benteng alami yang melindungi kampung dari amukan ombak Laut Maluku. Jika pulau-pulau tersebut rusak, kampung mereka ikut terancam. Kesadaran ekologis itu juga tampak dalam cara mereka menjaga laut. Ketika praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak pernah marak di kawasan sekitar, masyarakat tetap menolak menggunakan cara-cara destruktif. Mereka memahami bahwa laut bukan hanya sumber ekonomi hari ini, melainkan warisan bagi anak cucu. Karena itu mereka berharap aparat penegak hukum dapat bertindak tegas terhadap setiap pelaku bahan peledak yang bercokol di perairan sekitar untuk menangkap ikan.
Kesadaran menjaga lingkungan juga tampak melalui kolaborasi antara pemerintah desa dan gereja. Pemerintah menggagas Jumat Bersih, sedangkan gereja memprakarsai Sabtu Bersih. Periode kerja disepakati bersama antar kedua pihak. Dua program yang sederhana ini menjadikan kampung tetap bersih, rapi, dan asri. Di Lata-Lata, gereja dan pemerintah tidak berjalan sendiri-sendiri; keduanya bekerja bersama membangun kehidupan masyarakat.
Merindukan Air Bersih dengan Air Mata
Namun di balik segala kemajuan itu, tersimpan sebuah ironi. Ketika listrik telah menyala, internet telah tersedia, jalan beton telah dibangun, sekolah, dan rumah ibadah berdiri megah, ada satu kebutuhan dasar yang hingga kini belum terpenuhi. Air bersih. Inilah luka panjang yang masih dipikul masyarakat Lata-Lata.
Setiap hari mereka harus mendayung perahu sekitar lima ratus meter hanya untuk mengambil air. Pada musim kemarau, jaraknya menjadi jauh lebih panjang karena sumber-sumber air mulai mengering.
Tragedi bahkan pernah berulang. Perahu-perahu kecil yang digunakan oleh ibu-ibu dan anak-anak untuk mengambil air beberapa kali terbalik dihantam gelombang. Nyawa melayang hanya karena ingin membawa pulang beberapa jeriken air bersih. Betapa mahal harga setetes air bagi masyarakat pulau kecil ini.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



