Pendapat

Ketika Sejarah, Persahabatan, dan Sketsa Menjadi Satu Perjalanan di Banda Neira

Catatan dari Sketch Residensi - Ruang Berkisah di Rumah Pengasingan Bung Hatta (2)

Kemudian tibalah hari puncak. Hari kelima. Hari ketika semua kerja, tawa, perjalanan, dan kelelahan bermuara pada satu perayaan bersama.

Pameran resmi dibuka. Anak-anak sekolah memenuhi halaman rumah pengasingan. Mereka berlarian dari satu karya ke karya lain. Sebagian memandangi gambar dengan mata berbinar. Sebagian sibuk bertanya. Sebagian lagi langsung mencoba membuat gambar mereka sendiri. Saya menikmati semua itu dalam diam.

Selama berada di Banda, saya membawa banyak rindu yang belum selesai. Ada kehilangan-kehilangan yang masih harus saya peluk perlahan. Ada kenangan yang masih harus saya susuri satu demi satu.

Namun Banda tidak membiarkan saya berjalan sendirian. Di sana saya menemukan banyak hal yang diam-diam menguatkan.

Banyak kegembiraan yang singgah tanpa diundang. Banyak kehangatan yang datang tanpa diminta. Banyak senyum yang membuat perjalanan terasa lebih ringan.

pameran 2
Susan pameran Ruang Berkisah 2026.(Foto: Dok. Rung Bekisah)

Pameran itu. Para pengunjung yang hadir. Percakapan-percakapan sederhana. Pujian yang datang tanpa diduga. Tawa yang pecah di berbagai sudut ruangan.

Semuanya seperti mengingatkan saya tentang satu hal: Bahwa hidup selalu bergerak di antara pulang dan pergi, perjumpaan dan perpisahan.

Dan di tengah perjalanan itu, manusia sering lupa bahwa dirinya sesungguhnya dikelilingi begitu banyak anugerah.

Kadang anugerah itu hadir sebagai sebuah perjalanan. Kadang hadir sebagai seorang teman baru. Kadang hadir sebagai sebuah sketsa sederhana yang dibuat di atas secarik kertas.

Dan kadang, ia hadir dalam bentuk sebuah pulau kecil bernama Banda, yang diam-diam mengajarkan saya cara melihat dunia dengan lebih penuh syukur.(selesai)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button