Pendapat

Ketika Sejarah, Persahabatan, dan Sketsa Menjadi Satu Perjalanan di Banda Neira

Catatan dari Sketch Residensi - Ruang Berkisah di Rumah Pengasingan Bung Hatta (2)

Hari berikutnya menjadi hari yang paling penuh kejutan. Kami berencana menuju Pulau Hatta. Ombak sedang bersemangat pagi itu.

Saya yang sejak awal duduk percaya diri di bagian depan kapal kayu itu, menikmati angin laut dan pemandangan sekitar, akhirnya menyerah juga.

Guncangan ombak membuat saya mabuk laut. Sudah lama sekali saya tidak merasakan kondisi seperti itu.

Kini ketika mengingatnya, saya justru tertawa sendiri. Betapa mudahnya manusia merasa hebat, lalu beberapa menit kemudian diingatkan oleh laut bahwa dirinya tidak sepenuhnya berkuasa atas apa pun.

Karena cuaca yang kurang bersahabat, rute perjalanan kemudian dialihkan ke Pulau Sjahrir.

WhatsApp Image 2026 06 19 at 12.01.01
Para peserta sketch residensi saat hendak menuju Pulau Hata.(Foto: Dok. Ruang Berkisah)

Di sana saya mencoba pengalaman baru: menikmati kehidupan bawah laut menggunakan kacamata selam bersama Om Berry.

Laut Banda memperlihatkan wajahnya yang lain. Sunyi. Jernih. Menakjubkan. Seolah menyimpan dunia yang selama ini luput dari perhatian saya.

***

Menjelang akhir kegiatan, seluruh peserta mulai mempersiapkan pameran. Saya menyukai konsep yang dipilih panitia.

Sketsa-sketsa dipajang menggunakan jala nelayan. Sebuah perahu ditempatkan di tengah halaman Rumah Pengasingan Bung Hatta.

Keseluruhan ruang terasa menyatu dengan identitas Banda sebagai masyarakat kepulauan yang hidup bersama laut.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button