Pendapat

Fluktuasi Parpol dari Pemilu ke Pemilu

PENDAPAT

Sehingga sejak Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992 sampai dengan Pemilu 1997 pesertanya hanya tiga kontestan Pemilu, yakni : PPP, Golkar dan PDI. Pada Pemilu 1977 GOLKAR meraih 39.750.096 suara. Pada pososi kedua ditempati PPP dengan meraih  18.743.491 suara. Sedangkan pada posisi ketiga ditempati PDI dengan hanya meraih 5.504.757 suara.

Selanjutnya pada Pemilu 1982 GOLKAR kembali lagi berjaya, dengan meraih 48.334.724 suara, PPP meraih 20.871.880 suara, PDI meraih 5.919.702 suara. Kemudian pada Pemilu 1987 GOLKAR tetap tak terbendung, yang tampil lagi sebagai pemenang dengan meraih 62.783.680 suara.

Pada posisi kedua kembali lagi ditempati PPP dengan meraih 13.701.428 suara. Sementara PDI  tetap stagnan diposisi ketiga, dengan hanya meraih 9.384.708 suara.

Dalam Pemilu 1992 GOLKAR tetap terdepan, dengan kembali lagi memangkan Pemilu kelima di era Orba tersebut, dengan meraih 66.599.331 suara. Pada posisi kedua  ditempati PPP dengan meraih 16.624.647 suara. Pada posisi ketiga kembali lagi ditempati PDI, dengan hanya meraih 14.565.556 suara.

Berikutnya pada Pemilu  1997 GOLKAR lagi-lagi  menang, dengan meraih 84.187.907 suara. Pada posisi kedua PPP dengan meraih 25.340.028 suara. Sementara PDI tetap stagnan pada posisiketiga, dengan meraih3.463.225 suara.

Kemengan GOLKAR dalam enam kali Pemilu di era Orba tersebut, karena disokong oleh Pemerintah melalui keberpihakan Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) terhadap GOLKAR.

Pemilu era Orba tidak fair and flay terhadap PPP sebagai kekuatan politik kelompok Islam, dan PDI sebagai kekuatan kelompok nasionalis, dan keagamaan (Protestan, Katolik). Bahkan Pemerintah kala itu mensuboordinasi kedua partai tersebut, mulai dari pengurus dari tingkat pusat hingga daerah, dimana harus merupakan orang-orang yang dekat atau disetujui Pemerintah.

Pada tahun 1998 merupakan tahun yang panas dalam perpolitikan nasional kala itu. Hal ini ditandai dengan krisis moneter, demonstrasi mahasiswa  memuncak, yang menuntut reformasi disegala bidang. Puncaknya Presiden Soeharto pun mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.

Ia lantas digantikan Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Habibie kemudian mempersiapkan Pemilu 1999, yang dilaksanakan pada 7 Juni 1999. Pada Pemilu pertama di era Reformasi tersebut, diikuti oleh 48 partai politik, yang menandai Indonesia memasuki sistem multi partai ekstrim, dimana partai politik tumbuh bak jamur dimusim hujan

Pada Pemilu 1999 GOLKAR sudah bertransformasi menjadi partai politik, dengan penyebutan partai didepan nama partai politik, yang berlogo pohon beringin tersebut. Sudah bisa diduga, lantaran merupakan partai peninggalan rezim Orba Partai GOLKAR mendapat citra yang buruk di mata warga masyarakat.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button