
Dalam konteks pusat hingga daerah di tanah air, tatkala tahun 2024 lalu, organisasi partai politik peserta Pemilu 2024 juga senantiasa memperhatikan pelaksanaan koordinasi dalam rangka pemenangan Pemilu keenam kalinya pasca era Orde Baru tersebut.
Pasalnya pelaksanaan koordinasi menjadi aspek determinen, yang berperan mengintegrasikan atau menyatupadukan berbagai aspek substansi, dan teknis secara internal dan eksternal, untuk mencapai kesuksesan dalam perhelatan Pemilu tahun 2024.
Fakta menunjukan meskipun suatu organisasi partai politik berulang kali memenangkan Pemilu di tanah air, tapi pada suatu waktu partai politik tersebut gagal memenangkan Pemilu, yang digelar pada periode lima tahun berikutnya, sejak Pemilu pertama 1955 hingga terakhir Pemilu 2024. Ini merupakan fenomena fluktuasi partai dari Pemilu ke Pemilu.
Fluktuasi Parpol Dalam Pemilu
Kondisi ini bisa dilihat pada dinamika Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Golongan Karya (GOLKAR), Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, dan Partai Demokrat (PD). Dimana tidak sepanjang massa, dengan abadi dapat memenangkan Pemilu di Indonesia.
Hal ini disebabkan manajemen organisasi partai politik, yang tidak efektif dan efesien dari sisi pelaksanaan koordinasi. Disamping dinamika politik internal dan eksternal, yang turut mempengaruhi gagalnya organisasi partai politik tersebut, dalam memenangkan Pemilu.
Kendati partai-partai politik tersebut mengalami dinamika kemenangan dalam Pemilu, dan pada Pemilu-Pemilu berikutnya mengalami kekalahan. Tapi tidak selamanya partai-partai politik tersebut mengalami kekalahan dalam Pemilu, melainkan sebaliknya dapat bangkit, dan kemudian memenangkan Pemilu.
Misalnya saja PNI meraih kemenagan dalam Pemulu 1955 di era rezim Orde Lama (Orla), dimana meraih 8.434.653, suara. Pada posisi kedua ditempati MASYUMI, dengan meraih 7.903.886 suara. Pada posisi ketiga ditempati Partai Nahdlatul Ulama (NU), dengan meraih 6.955.141 suara.
Pada Pemilu 1971 di era Orde Baru (Orba) PNI mengalami kekalahan pada Pemilu 1971, dengan menempati posisi keempat dimana hanya meraih 3.793.266 suara.
Sementara pada Pemilu pertama di ere rezim Orde Baru (Orba) tersebut pemenangnya adalah GOLKAR yang saat itu enggan diidentikan sebagai partai politik, dengan meraih 34.348.673 suara, pada posisi kedua ditempati Partai NU, dengan meraih 10.213.650 suara, Sedangkan pada posisi ketiga ditempati Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI), dengan meraih 2.930.746 suara.
Fenomena kemenangan GOLKAR terus berlanjut, dimana sejak Pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992 sampai dengan Pemilu 1997. Menjelang pelaksanaan Pemilu 1977, Pemerintah melakukan fusi terhadap partai politik peserta Pemilu.
Hal ini terjadi pada tahun 1973. Partai-partai politik beraliran nasionalis, keagamaan (Protestan,Katolik), terdiri dari : Partai Kristen Indonesia (PARKINDO), Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan (IPKI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (MURBA), Partai Katolik, dan PNI difusi menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Sedangkan partai-partai politik beraliran Islam, tediri dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Persatuan Tarbiyah Islamiah (PERTI), PARMUSI, dan Partai NU difusi menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



