Pendapat

Di Balik Singa Oranye: Saat Tabungan Bank Saya Membiayai Industri Fossil yang Beracun

Tanpa sadar, selama 47 tahun –hampir setengah abad– saya secara struktural mendukung sebuah institusi keuangan yang mengalirkan miliaran dana ke industri perusak bumi dan pelanggar hak asasi manusia.

Begitulah cara kerja propaganda modern. Ia tidak datang dengan ancaman, melainkan dengan godaan visual yang memikat, kehangatan emosional, dan ikatan nostalgia. Ia menanamkan ilusi keandalan, sembari secara konsisten menyembunyikan sisi gelap yang mengerikan dari balik tirainya.

Serupa Tapi Tak Sama: Cerita Janji Manis di Maluku

Pola ilusi ini tidak hanya terjadi di meja perbankan Eropa, tetapi terpeta telanjang di tanah leluhur saya, Maluku.

Saya teringat bagaimana janji-janji manis dilontarkan di Kepulauan Tanimbar.

Presiden RI, Prabowo Subianto datang membawa karung-karung bantuan makanan, menjanjikan 12.000 lapangan kerja baru, dan meyakinkan warga Maluku bagian Selatan bahwa masa depan mereka akan terjamin.

Pertunjukan teater politik pun digelar lengkap dengan kain adat dan pementasan ritual tradisional, seolah-olah ada rasa hormat dan kebersamaan mendalam untuk pembangunan Maluku.

Namun, itu semua bagi saya, hanyalah topeng. Sama halnya dengan anak-anak muda yang terbuai oleh narasi sukses di media sosial seperti TikTok.

Pemerintah dan korporasi menjanjikan kemakmuran pesat dan pelatihan industri pertambangan. “Menganggur? Datanglah bekerja! Tinggalkan anak dan istri Anda sebentar, dan pulahlah dengan kantong tebal!”

Akibatnya, ratusan pemuda dan pemudi terbaik Maluku menghilang ke dalam lubang-lubang tambang nikel di Halmahera Utara. Mereka tak lagi melihat hangatnya mentari pagi, kebiruan laut, atau langit cerah kampung halaman.

Hari demi hari habis untuk shift kerja yang menguras raga, sementara bumi mereka terkoyak, sumber air minum tercemar logam berat, serta hutan dan satwa kehilangan rumahnya.


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button