Pendapat

Di Balik Narasi RMS, Ada Gerakan Islam Pendukung Republik


Ia terpilih menjadi anggota Dewan Maluku Selatan, lalu duduk di parlemen Negara Indonesia Timur (NIT). Di lembaga itu Hamid bergabung dengan Fraksi Kerakyatan yang berpandangan republik bersama tokoh-tokoh seperti E.U. Pupella.

Mereka menolak upaya mempertahankan pengaruh Belanda melalui struktur negara federal dan mendorong bergabungnya Negara Indonesia Timur ke dalam Republik Indonesia.

Peran Hamid mencapai puncaknya pada 25 April 1950. Bersama E.U. Pupella dan A. Koedoeboen, ia mengajukan mosi tidak percaya yang menjatuhkan pemerintahan federal NIT. Peristiwa itu menjadi salah satu momentum penting yang mempercepat proses menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketika Republik Maluku Selatan diproklamasikan beberapa hari kemudian, Hamid mengambil sikap yang tegas. Ia menolak gerakan separatis tersebut dan tetap berpegang pada Proklamasi 17 Agustus 1945. Melalui pengaruhnya di tengah masyarakat Muslim Ambon, ia berupaya mempertahankan dukungan terhadap Republik Indonesia.

Sesudah 1950, kiprah Hamid lebih banyak diarahkan pada pembangunan masyarakat melalui organisasi-organisasi Islam seperti Masyumi dan Muhammadiyah. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Wilayah Muhammadiyah pertama di Maluku.

Jika PERMI bergerak melalui pendidikan dan penguatan masyarakat, PRIMA menempuh jalur yang berbeda. Organisasi kepemudaan ini berdiri di Pulau Haruku pada Maret 1946 atas prakarsa Abdul Kadir Tuakia, Abdul Manaf Latuconsina, dan Achmad Hussain Tuasikal.

Sejak awal, PRIMA secara terbuka menyatakan keberpihakannya kepada Republik Indonesia. Organisasi ini memilih strategi perjuangan yang lebih konfrontatif dengan bergerak secara bawah tanah dan mengorganisasi berbagai aksi perlawanan terhadap kembalinya kekuasaan kolonial Belanda.

Pada 30 April 1946, bertepatan dengan peringatan ulang tahun Ratu Juliana, anggota PRIMA melancarkan serangan bersenjata. Pemerintah kolonial segera membalas melalui operasi penangkapan besar-besaran. Hampir seluruh pimpinan organisasi berhasil ditahan, kecuali Abdul Manaf Latuconsina yang sempat menghindari penangkapan. Represi tersebut membuat PRIMA berhenti beroperasi hanya sekitar sebulan setelah berdiri.

Walau berumur singkat, keberadaan PRIMA memiliki arti simbolik yang besar. Organisasi ini menunjukkan bahwa sejak awal revolusi telah muncul gerakan pemuda republik yang terorganisasi di Maluku.

Bersama organisasi lain seperti PPI, BPI, dan kemudian Partai Indonesia Merdeka (PIM), PRIMA memperlihatkan bahwa nasionalisme Indonesia juga tumbuh kuat di kalangan masyarakat Maluku.


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button