Pendapat

Dan Mawar Pun Bisa Tumbuh di Hati

Oleh: Dr. M.J. Latuconsina (Pemerhati Sosial, Politik dan Ekonomi, tinggal di Ambon)


Para khalayak tidak asing lagi dengan figur Agus Hadi Sudjiwo, yang biasa disapa Sujiwo Tejo, seorang budayawan yang sering tampil Indonesia Lawyers Club tvOne beberapa waktu lalu.

Pria kelahiran Jember, Jawa Timur pada 31 Agustus 1962 ini, pernah mengikuti kuliah di ITB, namun kemudian mundur untuk meneruskan karier di dunia seni yang lebih disenanginya.

Sempat menjadi wartawan di Harian Kompas selama delapan tahun, lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik, dan dalang wayang.

Ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti “Ketawa Bareng Tejo”.

Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.

Terlepas dari itu, pada suatu kesempatan Sujiwo Tejo pernah mengungkapkan quotes kontemplatif, “banyak yang yakin bahwa mawar cuma tumbuh di tanah. Padahal mawar juga bisa tumbuh di hati”.

Ungkapannya itu, memiliki makna tentang cinta dan kasih sayang, lantaran bunga mawar sering dilambangkan sebagai cinta dan kasih sayang. Cinta dan kasih sayang itu, tak hanya untuk sepasang kekasih saja namun maknanya global, dimana cinta dan kasih sayang itu biasanya juga dari orang tua kepada anaknya.

Tentang pentingnya cintah dan kasih sayang, Dalai Lama (Tenzin Gyatso) pernah juga menyentilnya.

Tokoh spritual kelahiran Amdo, Tibet pada 6 Juli 1935 ini, merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara keluarga petani dan dinyatakan sebagai tulku (reinkarnasi) Dalai Lama ke-13 pada usia tiga tahun.

Pada 17 November 1950, ia naik takhta sebagai kepala negara Tibet. Tak lama berselang, pada musim gugur 1951 Tentara Merah Cina (Chinese Red Army) berhasil menguasai Lhasa ibu kota Tibet, lalu mendongkel ia dari kekuasaannya.

Dalai Lama tak menyerah pada Tentara Merah Cina begitu saja, dipimpin Gampo Tashi, maka Dalai Lama pada 17 Maret 1959 mengungsi ke Dharamasala, Utara India dan mendirikan Pemerintahan Tibet di pengasingan (exile government).

Buah perjuangan bersama rakyatnya dalam menentang pendudukan Cina atas negerinya itu, ia lantas diganjar Nobel Prize pada 1989.

Pada suatu kesempatan Dalai Lama juga pernah mengatakan bahwa, “cinta dan kasih sayang adalah kebutuhan, bukan kemewahan. Tanpa hal tersebut, rasa kemanusiaan tidak akan bisa bertahan”.

Ungkapan kontemplatif Dalai Lama itu, penuh makna yang humanis, dimana penegasan cinta dan kasih sayang itu merupakan kebutuhan. Tak hanya untuk sepasang kekasih saja, namun artinya global. Dimana cinta dan kasih sayang itu, biasanya juga dari orang tua kepada anaknya.

Semoga sebagai orang tua kita selalu berbahagia dengan anak sebagai buah cinta dan kasih sayang kita, dan semoga kita tidak seperti yang dikatakan Joseph Roux penyair berkebangsaan Perancis, kelahiran Tulle, Perancis pada 19 April 1834 lantas wafat di Tulle, Perancis pada 14 Februari 1905 bahwa,..”pada orang tua terdapat kesedihan tanpa air mata”.(*)


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Kue/Cookies Enak Berkualitas dari Inggrid Bakery & Pastry

Berita Serupa

Back to top button