Budhy Munawar Rachman: Saatnya Pendidikan Didasarkan pada Cinta, Bukan Kompetisi
potretmaluku.id – Auditorium Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon tampak penuh sesak pada Kamis, 23 Oktober 2025. Para dosen dan mahasiswa dari berbagai program studi memenuhi ruangan untuk mengikuti hari kedua Seminar Nasional IAKN Ambon 2025, yang tahun ini mengangkat gagasan menarik: “Filsafat dan Kebijakan Kurikulum Cinta.”
Pembicara utama, Dr. Budhy Munawar Rachman, tampil membawakan materi dengan gaya reflektif dan hangat. Ia dikenal sebagai pemikir dan akademisi lintas iman yang konsisten menyoroti tema filsafat, kemanusiaan, dan pendidikan kritis.
Dalam paparannya, Budhy mengajak peserta untuk membayangkan dunia pendidikan yang tak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter welas asih.
“Kurikulum Cinta bukan hanya penting bagi dosen atau pendidik di perguruan tinggi, tetapi juga bagi guru di semua jenjang pendidikan,” ujarnya. “Pendidikan seharusnya menumbuhkan rasa kasih, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama manusia.”
Gagasan itu sontak menarik perhatian peserta. Diskusi berkembang hangat, dengan mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan yang menggugah.
Salah satunya datang dari Riki Solarbesain, mahasiswa Program Studi Teologi semester lima, yang menanyakan apakah Kurikulum Cinta mampu menjawab pengalaman belajar yang beragam, termasuk dari kalangan disabilitas.
Pertanyaan lain menyoroti bagaimana konsep ini dapat diintegrasikan dalam sistem akademik tanpa mengorbankan kualitas pendidikan. Budhy menanggapinya dengan apresiasi. Ia menyebut semangat kritis mahasiswa sebagai tanda tumbuhnya kesadaran baru dalam dunia pendidikan.
“Kurikulum Cinta justru hadir untuk menjembatani keberagaman pengalaman dan memperkaya proses belajar agar lebih inklusif dan manusiawi,” katanya.
Diskusi yang berlangsung lebih dari dua jam itu meninggalkan kesan mendalam. Sejumlah peserta menilai pendekatan pendidikan berbasis cinta membuka perspektif baru tentang kemanusiaan di ruang akademik.
Seminar ditutup dengan sesi foto bersama dan pesan agar dunia pendidikan terus mengembangkan pendekatan yang menyentuh dimensi emosional dan spiritual, bukan hanya rasional.
Melalui kegiatan ini, IAKN Ambon menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang menumbuhkan empati, kasih, dan semangat kebersamaan, nilai-nilai yang kian penting di tengah dunia yang sering kali kehilangan kelembutan nurani.(Meis Yeri Polnaya)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



