Nasional

Baruga Puan Tani dan Literasi Pangan Alami

Rumah ini dibuat sendiri oleh Mudding Daeng Liwang, ayah Daeng So’na. Atap yang terbuat dari daun pohon nipah juga dianyam sendiri oleh Daeng Liwang.

Mereka hanya membeli daun nipah di Desa Pabbatangang, yang dikenal sebagai sentra pembuatan gerabah dan batu bata di Kabupaten Takalar.

Tiang, ulu balla, dan pappadongko terbuat dari batang kelapa, yang pohonnya diambil dari kebun di Lamberang. Pohon kelapa itu ditanam kakek Daeng So’na. Bangunan baruga berukuran 5×6 meter ini berada di bagian belakang lahan kebun yang ditumbuhi aneka tanaman.

Daeng So’na mengungkapkan, ada yang mengira bangunan dan lahan ini milik masyarakat yang dibiayai donor. Padahal merupakan hasil jerih payah sendiri, buah kerja keras, dan upaya kemandirian yang dilakukan Daeng So’na, sejak 2019, setelah dia dan Rayhana merintis Sofresh’na.

Diakui bahwa dirinya bertransformasi setelah mendapat beasiswa Bekal Pemimpin dari Unity In Diversity (UID). Saat itu, UID dipimpin oleh Mari Elka Pangestu, yang pernah jadi menteri dan salah seorang direktur di Bank Dunia (World Bank).

Baruga Puan Tani

Daeng So’na merancang Baruga Puan Tani ini dengan meniru rumah tradisional orang-orangtua zaman dahulu. Rumah panggung tradisional khas Makassar ini juga dibuat dengan prosesi adat yang biasa dilakukan bila orang mendirikan rumah. Ada umba-umbanya, kulapisi, pallu golla, dan unti tekne yang diletakkan di atas kappara.

Prosesi yang disebut picuru ini dilakukan sebelum rangka bangunan didirikan. Daeng So’na bercerita, baju dan lipa sabbe juga diikat di tiang tengah (benteng tangnga).

Di situ digantung unti tekne (pisang), gula merah, dan kelapa. Semua dibeli di Pasar Pattallassang, yang dalam bahasa Makassar bermakna sumber kehidupan. Ini merupakan salah satu tradisi masyarakat lokal, dengan harapan kehidupan masa depannya akan lebih baik.

Daeng So’na dalam mengelola lahan pertanian bersama ayahnya, dibantu oleh Daeng Lawa. Sebelum masuk ke pekarangan baruga, kita bisa melihat tanaman ubi cilembu, kelor, jati belanda dan jati lokal.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button