Baruga Puan Tani dan Literasi Pangan Alami
Ada juga tebu, serei, sirsak, jambu kristal, ubi kayu dan kacang panjang. Kunyit, lengkuas, markisa, beberapa jenis mangga, rambutan, kelapa, belimbing, tabebuya, bidara, jeruk nipis, nagka, bunga telang, nenas, daun pandan, dan kersen juga ada.
Di bagian belakang baruga, terdapat 3 jenis pohon bambu. Ada jenis bambu tali, yang sudah langka di Bonto Panno, bahkan tinggal satu-satunya.
Ada bambu banoa, bambu parring, dan bambu gading yang berwarna kuning. Beberapa jenis pisang juga ditanam, seperti pisang goroho, unti tunuang, serta pisang bainang yang enak bila digoreng.
Pohon inru (aren), lontar, dan paramunte, buah sejenis markisa. Orang dulu, katanya, menganggap buah ini sebagai makanan ular, tapi sebetulnya rasanya mirip markisa. Selain itu, terdapat green house, yang tengah dilakukan pembibitan pepaya kalifornia dan pohon durian.
Daeng So’na mengimpikan Baruga Puan Tani ini menjadi lokasi rekreasi keluarga yang edukatif terkait pertanian alami. Dia berencana mengadakan kegiatan melukis dan literasi dengan melibatkan murid-murid Sekolah Dasar. Menurutnya, keanekaragaman hayati perlu diperkenalkan sejak dini.
Di Baruga Puan Tani ini, mereka yang berkunjung bukan hanya bisa belajar, tapi sekaligus menikmati makanan yang dioleh dari kebun yang terhampar di halaman baruga.
Selain edukasi tanaman, mereka yang datang juga akan mendapat pembelajaran terkait rumah panggung tradisional Makassar. (*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




