
Beliau, saat itu, bilang kalau punya show room dan bengkel motor di Makassar. Begitu ke Makassar, kami pun bertemu dan ngobrol banyak hal soal kegiatan sosial dan pemberdayaan.
Suatu hari di tahun 2004, saya dihubungi wartawan harian Fajar, A. Anita Amir, untuk wawancara khusus tentang anak jalanan dan pekerja anak.
Saat itu, saya dan LISAN sudah pindah alamat ke Jalan Emmy Saelan Lorong 2. LISAN merupakan LSM yang jadi bagian dari JARAK (Jaringan Advokasi Pekerja Anak).
Kami bertemu di Kopitiam Mal Panakkukang (MP). Anita menyampaikan bahwa tadinya, Ibu Tria Amelia, psikolog, yang mau diwawancarai. Namun Bu Tria (anak Prof Ahmad Amiruddin, mantan Gubernur Sulawesi Selatan) merekomendasikan saya.
Itu karena Bu Tria pernah ke rumah saya di Tirta Mas, berdiskusi seputar isu anak dengan saya. Saat itu saya menyampaikan tengah menyelesaikan buku anak jalanan dan buku pengalaman advokasi akta kelahiran.
Hasil wawancara dengan Anita, muncul di rubrik “Bincang”, satu halaman penuh. Wawancara dan sosok saya ditampilkan satu halaman penuh lagi di rubrik “Bincang”, saat saya sudah jadi komisioner KPID Sulawesi Selatan, dan sudah pindah ke Jalan Letjen Hertasning Blok E10 No 4D (Minggu, 27 Juli 2007).
Pada kesempatan lain, saya bersama keluarga ditampilkan sehalaman penuh pada rubrik “Weekend”, 8 Mei 2010. Pemotretan untuk rubrik ini dilakukan di Gramedia Mal Ratu Indah karena kami biasa menghabiskan akhir pekan ke toko buku.
Kemudian wawancara lengkap saya seputar advokasi anak kembali dimuat sehalaman penuh dalam rubrik “Persona” harian Fajar (21 November 2010). Belum lagi media-media cetak lainnya, yang juga sehalaman penuh.
Saya lanjut bercerita. Ketika Makassar TV mengudara pertama kali, pada tanggal 23 November 2003, saya sudah bertekad, suatu ketika harus masuk TV.
Kesempatan itu akhirnya tiba. Lagi-lagi isu anak jalanan dan pekerja anak jadi topik bahasan.
Saya diundang oleh Canny Watae–salah satu pewawancara kritis–untuk hadir di studio Makassar TV yang kala itu masih di Hotel Sahid Jaya. Saya tampil bersama Muh Yusuf Tuang Baso, Kadis Sosial Kota Makassar.
Saya ingat, beberapa kali Tuang Baso menyebut bahwa saya lebih tahu atau beliau belajar dari saya. Saya memaknai kalimat itu sebagai ungkapan rendah hati dari seorang pejabat publik. Namun, Canny Watae menyambar kalimat itu dengan mengatakan, “Bagaimana kalau Pak Rusdin jadi kepala dinas?” Candaan ini membuat kami tertawa bersama.
Setelah beberapa hari siaran live di stasiun televisi swasta pertama di Sulawesi Selatan itu, rupanya masih diputar rerun-nya.
Saya yang tengah menonton siaran Makassar TV dengan Galang dan Gandhi–dua anak saya yang kala itu masih kecil–seketika mendengar celetukan, “Eh kenapa bapak dua?” Sambil keduanya terheran-heran melihat saya di layar TV dan di hadapan mereka hehehe. (*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




