Andikisme; Gerakan Kedaulatan Pangan dari seorang Anak di Bojonegoro
Perang antara Rusia dan Ukraina seharusnya mengajarkan kita bahwa seharusnya kedaulatan pangan itu adalah kedaulatan pangan pada setiap keluarga, desa, atau kecamatan yang menjadi kedaulatan negara. Tradisi dalam satu peradaban yang lahir di setiap masyarakat adat seharusnya menjadi data penting yang dipakai untuk mendorong program kedaulatan pangan di setiap wilayah.
Sejarah hari ini berulang, Andik adalah titisan dari Marhaen, lakonnya adalah keterwakilan dari laku dan pribadi luhur Bangsa Indonesia. Mungkin kah ini sebuah kebetulan semata atau memang ini suatu peristiwa yang telah digariskan Ibu Pertiwi?
Bahwa kejadian Andik ini terjadi berdekatan dengan kegiatan besar bangsa Indonesia pada tanggal 20-27 Oktober 2023 mendatang. Bangsa Indonesia akan menyelenggarakan Kongres Kebudayaan Indonesia kedua, di mana isu Kedaulatan pangan menjadi salah satu isu besar yang harus bisa dicari solusinya secara bersama-sama oleh setiap anak bangsa. Kebudayaan diharapkan bisa memberi kontribusi nyata dan menjadi haluan utama untuk menyelesaikan persoalan pangan.
Saya yakin bahwa setiap individu yang akan datang di Kongres Kebudayaan Indonesia memiliki jiwa seperti Andik. Anak-anak bangsa ini ketika bertemu dan melakukan Neyolya, sebuah tradisi dari Pulau Masela untuk melakukan pertukaran hasil kebun dengan hasil laut yang disimpan di lumbung.
Ketika terjadi gagal panen atau kelaparan, setiap keluarga akan mengisi hasil kebun atau hasil laut di dalam bakul. Kemudian, seorang ibu dengan suami dan anaknya menuju ke kampung saudara saudarinya yang memiliki bahan hasil kebun atau hasil laut yang dibutuhkan.
Proses ini dilakukan di rumah kerabat tanpa saling mengontak sebelumnya dan ketika datang melakukan Neyolya keluarga yang didatangi akan menjamu mereka. Lalu, proses bertutur silsilah hubungan kekerabatan dilakukan agar hubungan mereka tetap terjaga dengan baik, seluruh persoalan dapat diselesaikan, dan yang terpenting hubungan ini diketahui oleh anak-anak mereka. Setelah itu, keluarga tersebut pulang dengan membawa pemberian keluarganya dengan bahagia.
Jika di tahun 1926-1927 paham Marhaenisme lahir dan menjadi simbol pergerakan, maka hari ini apa yang dilakukan oleh Andik akan menjadi sebuah gerakan dari satu tangan ke tangan lainnya, menyambung menjadi satu gerakan bangsa Indonesia untuk menghadapi krisis pangan di bumi.
Apa yang dilakukan oleh Andik suatu etika bisa melahirkan suatu gerakan ketika bangsa ini sementara terus mencari formula dan konsep-konsep untuk ketahanan pangan yang pada saatnya gerakan ini bisa menjadi suatu paham yang bisa aku sebut Andikisme. Meskipun memang butuh kajian dan pemikiran-pemikiran filosofi yang besar dan kuat untuk mendukung apa yang saya sebut gerakan Andikisme ini.
Andikisme akan menjadi sebuah gerakan konsep memanfaatkan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan hidup, tanpa harus menunggu pertolongan dalam kemelaratan di atas tanah dan laut yang kaya dan subur dengan kearifan masyarakat di kampung-kampung.
Gerakan ini menjadi penting difasilitasi oleh negara dan dilakukan dalam sebuah kesetaraan. Bagi saya Andik adalah simbol dari gerakan kedaulatan pangan dan tentunya Andik layak untuk diundang pada Kongres Kebudayaan Indonesia tahun 2023.(*)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



