Pendapat

MBG dalam Sekelebat Antropologi

Oleh: Steve G. C. Gaspersz (Pembelajar Masyarakat)


Sebuah kotak makan tiba di sekolah. Bagi murid yang menunggu, isinya adalah nasi, lauk, dan janji sederhana: hari ini mereka dapat makan lebih baik. Bagi keluarga, makanan itu dapat mengurangi beban belanja.

Bagi negara, kotak yang sama adalah bukti bahwa kebijakan sosial sampai ke tangan warga. Namun ketika anak-anak jatuh sakit seusai menyantapnya, benda sehari-hari itu berubah menjadi pertanyaan yang mendesak: bagaimana program yang dibuat untuk merawat justru dapat menghadirkan risiko?

Pertanyaan tersebut penting diajukan tanpa menutup mata terhadap tujuan Makan Bergizi Gratis (MBG). Makanan di sekolah dapat membantu pemenuhan gizi dan menopang kegiatan belajar. Program ini juga membuka peluang bagi petani, peternak, dan usaha pangan setempat.

Masalahnya terletak pada syarat yang memungkinkan manfaat itu sampai dengan aman. Dari perspektif antropologis, makanan tidak sekadar kandungan gizi di atas kertas. Itu melewati orang, tempat, waktu, dan hubungan kepercayaan sebelum masuk ke tubuh anak.

MBG memperlihatkan kapasitas organisasi yang besar. Menurut angka yang dihimpun dalam artikel sumber dari Badan Gizi Nasional (BGN), program ini dimulai pada Januari 2025 melalui 190 satuan pelayanan dan sekitar 570.000 penerima.

Pada Mei 2026, data pemerintah yang dikutip ANTARA menyebut sekitar 29.000 satuan pelayanan dan 62,45 juta penerima. Pertumbuhan ini patut dicatat. Pada saat yang sama, setiap dapur baru menuntut air bersih, pekerja terlatih, bahan yang baik, pemeriksaan, kendaraan, dan keputusan yang tepat ketika makanan diragukan keamanannya.

Negara hadir di dalam kotak makan

Orang kerap membayangkan negara sebagai kantor, aturan, atau pidato pejabat. Anak sekolah kini mengenal negara dengan cara yang jauh lebih dekat: melalui makanan yang disajikan setiap hari.

Negara hadir lewat tangan petugas dapur yang mencuci sayuran, pemasok yang mengirim ayam, pengemudi yang membawa wadah makanan, dan guru yang membagikannya. Apabila salah satu matarantai terganggu, akibatnya dapat dirasakan langsung oleh penerima.

Antropolog James C. Scott pernah menunjukkan bahwa program besar memerlukan angka dan kategori agar dapat dikelola. Dalam MBG, jumlah penerima, dapur, sekolah, dan porsi memang harus dihitung. Namun angka tidak dapat menggambarkan seluruh keadaan.

Satu sekolah mungkin dekat dengan dapur; sekolah lain harus menunggu kendaraan melewati jalan rusak atau menyeberangi laut. Satu dapur memiliki ruang simpan memadai; yang lain berhadapan dengan gangguan air atau listrik. Perbedaan itu menentukan apakah standar yang sama benar-benar bekerja.


Penulis :
Editor :

1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button