Pendapat

MBG dalam Sekelebat Antropologi

BGN pada Agustus 2026 menyatakan bahwa makanan siap saji harus dikonsumsi paling lama empat jam sejak matang. Batas ini mengingatkan kita bahwa jam di dapur, jam kendaraan, dan jam istirahat sekolah perlu berjalan selaras.

Bayangkan dapur mulai memasak sebelum fajar agar ribuan porsi siap. Pengemasan memerlukan waktu; kendaraan berhenti di beberapa sekolah; pembagian tertunda karena jadwal pelajaran berubah. Waktu terus berjalan bahkan ketika makanan tampak baik dari luar.

Di wilayah kepulauan, cuaca dan penyeberangan dapat menambah ketidakpastian. Kebijakan nasional akhirnya bergantung pada keputusan yang amat setempat: kapan masakan selesai, berapa lama tersimpan, dan apakah makanan masih layak saat diterima.

Pekerjaan menjaga keamanan makanan sering tidak terlihat. Ada petugas yang memeriksa bahan mentah, menjaga air bersih, mencatat suhu, memisahkan makanan matang dari bahan mentah, atau membuang satu wadah yang berbau tidak wajar.

Pekerjaan inilah inti kepedulian. Jika mereka hanya dinilai dari banyaknya porsi yang terdistribusi, keputusan menghentikan pengiriman makanan yang meragukan bisa terasa seperti kegagalan, padahal justru dapat mencegah jatuhnya korban.

BGN telah mengambil langkah korektif. Artikel sumber mencatat bahwa hingga akhir Mei 2026 ribuan satuan pelayanan pernah dikenai penghentian sementara karena berbagai alasan, termasuk persoalan infrastruktur, pengelolaan, mutu, sertifikasi, dan kejadian gangguan kesehatan.

Pada Agustus dan September, BGN juga mengumumkan penutupan dapur yang tidak layak serta penghentian sementara dapur yang belum mengurus syarat higiene. Jumlah dapur yang dihentikan tidak sama dengan jumlah dapur penyebab keracunan. Yang patut diperhatikan ialah besarnya pekerjaan pemeliharaan yang muncul bersamaan dengan percepatan program.

Belum cukup pula untuk menyebut pelanggaran prosedur sebagai penyebab. Kita perlu bertanya apakah pekerja memiliki alat, waktu, pelatihan, dan kewenangan untuk mematuhinya.

Apakah dapur boleh menolak bahan yang buruk tanpa takut kekurangan porsi? Apakah pengemudi dapat melaporkan keterlambatan tanpa tekanan? Apakah sekolah dapat menolak makanan yang tiba terlalu lambat? Aturan keselamatan hanya berguna jika orang di lapangan dapat menjalankannya, termasuk ketika itu berarti target harian tidak tercapai.

Di sini tampak paradoks kepedulian. Tujuan program dapat sungguh baik, sementara cara mengaturnya masih menghasilkan bahaya yang berulang. Istilah toxic care dalam salah satu artikel sumber menunjuk pada pertentangan tersebut; bukan tuduhan bahwa makanan MBG seluruhnya berbahaya atau bahwa ada niat mencederai. Secara lebih sederhana: kepedulian kehilangan maknanya ketika keselamatan tertinggal dari kecepatan.


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button