Hanubun Minta Inovasi KKN UGM dan Unpatti Tak Berhenti Setelah Mahasiswa Pulang
potretmaluku.id – Pemerintah ohoi di Maluku Tenggara diminta melanjutkan program pemberdayaan yang dirintis mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pattimura selama menjalankan Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM).
Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun mengatakan berakhirnya masa pengabdian mahasiswa tidak boleh sekaligus mengakhiri inovasi dan pengetahuan yang telah diperkenalkan kepada masyarakat.
“Jangan sampai setelah mahasiswa kembali ke kampus, semua yang sudah dilakukan berhenti. Apa yang baik harus diteruskan, dikembangkan, dan menjadi bagian dari pembangunan ohoi,” kata Hanubun dalam silaturahmi Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara bersama mahasiswa KKN di Ohoi Danar, Sabtu, 8 Agustus 2026.
KKN-PPM berlangsung selama 50 hari di lima ohoi, yakni Elaar Let, Elaar Lamagorang, Elaar Ngursoin, Ohoidertutu, dan Ohoidertom. Kelima wilayah tersebut berada di Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan dan Kecamatan Kei Kecil Barat.
Hanubun meminta kepala ohoi memperhatikan catatan dan rekomendasi mahasiswa untuk dijadikan bahan dalam perencanaan pembangunan.
Menurut dia, mahasiswa selama berada di lapangan tidak hanya menjalankan program akademik, tetapi juga berinteraksi dengan warga, memetakan persoalan, menggali potensi lokal, dan memperkenalkan sejumlah pendekatan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
“Para kepala ohoi harus memperhatikan catatan atau saran yang disampaikan mahasiswa KKN untuk pengembangan pembangunan di masing-masing ohoi,” ujarnya.
Hanubun mengatakan keberhasilan KKN tidak semata-mata diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana selama mahasiswa berada di desa. Dampak program setelah mahasiswa meninggalkan lokasi pengabdian juga menjadi ukuran penting.
Menurut dia, mahasiswa dapat menjadi pemantik perubahan. Namun, keberlanjutan program membutuhkan keterlibatan pemerintah ohoi dan masyarakat.
Ia mendorong pemuda, kelompok perempuan, sekolah, serta berbagai unsur masyarakat ikut menjaga dan mengembangkan program yang telah dirintis selama KKN.
Pembangunan ohoi, kata Hanubun, juga tidak seharusnya hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Penguatan sumber daya manusia, pendidikan, literasi, kreativitas, kesehatan, ekonomi masyarakat, lingkungan, dan pemanfaatan potensi lokal perlu menjadi bagian dari pembangunan.
“Mahasiswa sudah memberikan ide dan pengalaman. Tugas kita adalah menjaga dan mengembangkannya agar memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Hanubun mengapresiasi mahasiswa UGM dan Universitas Pattimura yang memilih Maluku Tenggara sebagai lokasi pengabdian dan pembelajaran.
Ia berharap pengalaman selama 50 hari tinggal bersama masyarakat Kei menjadi pengalaman positif yang dapat dibawa mahasiswa ketika kembali ke daerah masing-masing.
“Ceritakan hal-hal positif yang kalian alami dan hadapi selama 50 hari di Ohoi Elaar Let, Lamagorang, Ngursoin, Ohoidertutu dan Ohoidertom,” ujarnya.
Menurut Hanubun, pengalaman tersebut dapat membantu memperkenalkan kehidupan masyarakat dan potensi Maluku Tenggara kepada publik yang lebih luas.
Ia juga berharap hubungan yang terbentuk antara mahasiswa dan masyarakat tidak berakhir setelah program KKN selesai.
“Kembali ke kampus, tiba dengan selamat, bertemu orang tua, dan jangan pernah melupakan Maluku Tenggara,” kata Hanubun.
Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara berharap kerja sama dengan perguruan tinggi terus diperkuat. KKN, menurut pemerintah daerah, tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga dapat menghasilkan program pemberdayaan yang memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Keberlanjutan tersebut diharapkan membuat setiap ohoi mampu mengembangkan gagasan baru dengan bertumpu pada potensi dan karakter masyarakat setempat.(TIA)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



