Jalan Sunyi di Atas Ombak: Kisah Perjuangan Pelestarian Bahasa di Kepulauan Maluku
PENDAPAT
Bukanlah sebuah kebetulan jika peradaban manusia tumbuh dari bahasa. Ada yang bilang, bahasa adalah jembatan, penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan sebuah bangsa. Di dalamnya tersimpan cerita leluhur, pengetahuan lokal, dan nilai-nilai budaya yang membentuk identitas kita.
Sayangnya, di Kepulauan Maluku (Maluku dan Maluku Utara), jembatan-jembatan itu kini berguncang, bahkan terancam roboh. Puluhan, bahkan ratusan bahasa daerah di sana mulai meredup, terancam dilupakan oleh anak-anak muda yang lebih fasih ber-TikTok ketimbang bertutur dalam bahasa leluhur.
Bayangkan dua pemandangan kontras ini: seorang anak muda di Ambon lebih fasih menyanyikan lirik K-pop ketimbang melafalkan doa adat dalam bahasa nenek moyangnya.
Sementara di sebuah desa kecil di Seram, seorang kakek masih dengan khidmat mengajarkan kapata, syair kuno Maluku, kepada cucunya, meski sang cucu lebih sibuk merekamnya untuk diunggah ke TikTok.
Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya menjaga bahasa, sang kakek dengan ingatan kolektifnya, atau si cucu dengan algoritma media sosialnya?
Inilah dilema besar pelestarian bahasa di Maluku dan Maluku Utara. Antara romantisme adat dan godaan globalisasi, bahasa lokal terjebak di ruang sempit: di rumah semakin jarang terdengar, di sekolah nyaris tak masuk kurikulum.
UNESCO sudah mengingatkan, setiap dua minggu ada satu bahasa punah di dunia. Di Indonesia, 11 bahasa sudah resmi mati, 25 kritis, dan lebih dari 100 lainnya terancam.
Maluku sendiri punya lebih dari 130 bahasa, sebagian hanya punya penutur kurang dari 200 orang. Ironisnya, di negeri yang begitu kaya bahasa, justru bahasa-bahasa itu cepat sekali sekarat.
Sungguh, ini bukan sekadar masalah budaya, ini soal krisis identitas. Kita melihat pemandangan ironis: di satu sisi, kita merayakan keindahan arsitektur modern seperti Jembatan Merah Putih di Ambon yang menjulang megah, simbol kemajuan dan konektivitas. Di sisi lain, kita membiarkan jembatan budaya yang tak kasat mata, bahasa daerah, hancur tanpa upaya berarti.
Pemandangan ini lebih menyedihkan daripada melihat sebuah desa yang kehilangan akses jalan. Jika desa itu terisolasi secara fisik, kita tahu cara membangunnya: dengan beton, baja, dan dana alokasi khusus.
Tapi bagaimana jika sebuah komunitas terisolasi dari akar budayanya sendiri? Ketika bahasa Kayeli di Buru dan Palumata di Seram berada di ambang kepunahan. Atau saat bahasa Taba dan Gane kehilangan penuturnya secara drastis dalam dua dekade terakhir, kita tidak bisa hanya mengandalkan cetak biru fisik.
Di Maluku, yang memiliki lebih dari 130 bahasa daerah, sebagian besar bahasa hanya dituturkan oleh komunitas kecil, bahkan ada yang penuturnya kurang dari 200 orang. Sementara itu, generasi muda di perkotaan lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia atau Melayu Ambon, membuat bahasa daerah menjadi identitas pasif, hanya dipahami, bukan dipraktikkan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



