Jalan Sunyi di Atas Ombak: Kisah Perjuangan Pelestarian Bahasa di Kepulauan Maluku
PENDAPAT
Maka, ketika Moluccan Network dan Institute for Maluku Studies merilis White Paper Strategi Pelestarian Bahasa Daerah Maluku & Maluku Utara, kita patut bertanya: apakah ini sekadar dokumen tebal yang akan menghuni rak-rak perpustakaan, atau ini sebuah panggilan darurat? Laporan ini bagaikan peta harta karun yang menunjukkan jalan keluar dari krisis.
Kita patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para anggota Moluccan Network yang telah mendiskusikan dan mencari jalan keluar atas isu krusial ini, serta kepada Institute for Maluku Studies yang telah merangkumnya menjadi sebuah white paper yang komprehensif.
Strategi: Antara Dokumen dan Aksi
Moluccan Network dan Institute for Maluku Studies sudah melahirkan Roadmap Pelestarian Bahasa 2025–2035. Ini hasil diskusi intens pada WhatsApp Group Moluccan Network beranggotakan ratusan orang, dengan berbagai latar belakang akademik dan profesi, dan tersebar di dalam maupun di luar negeri.
Isinya cukup rapi: pemetaan , dokumentasi digital , kelas bahasa di desa , muatan lokal di sekolah , hingga festival tahunan. Bahkan ada hitung-hitungan anggaran: Rp 36 miliar selama sepuluh tahun.
Jika dibandingkan dengan biaya pembangunan satu ruas jalan yang bisa habis dalam seminggu, angka itu sebenarnya tidak seberapa. Tapi apakah bahasa bisa diselamatkan hanya dengan angka-angka dalam dokumen?
Di sinilah letak ironi sekaligus tantangannya. Bahasa bukan proyek pembangunan fisik yang bisa diresmikan dengan gunting pita. Ia hidup atau mati di ruang paling sederhana: meja makan keluarga. Kalau orang tua memilih bercakap dalam bahasa Indonesia “biar anak cepat pintar”, maka pelestarian bahasa sudah kalah bahkan sebelum program pemerintah dimulai.
Dua Wajah: Sekolah vs Komunitas
Sekolah bisa jadi benteng, tapi komunitas adalah jantung. Program muatan lokal bahasa daerah tentu penting, tetapi tanpa dukungan komunitas, ia akan jadi sekadar pelajaran hafalan seperti pelajaran PPKn.
Sebaliknya, komunitas yang masih menggunakan bahasa di pasar, pesta negeri, atau ibadah adat, lebih efektif menjaga keberlanjutan. Bahasa yang hidup bukanlah bahasa yang diajarkan di papan tulis, melainkan bahasa yang digunakan untuk marah, bercanda, bahkan jatuh cinta.
Namun, jangan salah. Generasi muda Maluku tidak buta teknologi. Justru di situlah peluang baru: TikTok berbahasa Taba, podcast dengan logat Kayeli, stand-up comedy pakai bahasa Gane.
Bahasa yang dianggap “kuno” bisa berubah jadi konten segar yang viral. Syaratnya cuma satu: ada yang berani memulai. Kalau bahasa hanya dipajang di festival budaya tahunan, ia akan bernasib sama seperti tifa yang dipukul setahun sekali saat karnaval. Meriah di mata turis, tapi sepi di kehidupan sehari-hari.
Lalu kita akan dengan bangga berkata: “Bahasa daerah kami masih ada!” Padahal yang ada hanya rekaman, bukan percakapan. Bahasa tanpa penutur ibarat perahu tanpa nelayan: indah difoto, tapi tak berguna.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



