MalukuMaluku UtaraPendapat

Jalan Sunyi di Atas Ombak: Kisah Perjuangan Pelestarian Bahasa di Kepulauan Maluku

PENDAPAT

Belajar dari Bahasa Maori

Namun, jangan buru-buru pesimis. Sejarah menunjukkan bahwa bahasa bisa bangkit kembali jika ada kemauan kolektif. Lihatlah bahasa Maori di Selandia Baru: sempat terancam punah pada pertengahan abad ke-20 karena kebijakan asimilasi yang ketat.

Namun, melalui gerakan akar rumput yang digerakkan oleh para tetua dan ibu, muncullah konsep Kōhanga Reo atau “sarang bahasa,” sebuah sekolah prasekolah berbahasa Maori yang dimulai di garasi-garasi rumah.

Gerakan ini tumbuh pesat, menarik perhatian pemerintah, hingga akhirnya bahasa Maori diakui sebagai salah satu bahasa resmi Selandia Baru pada 1987. Kini, bahasa Maori diajarkan dari tingkat taman kanak-kanak hingga universitas, digunakan di media massa, dan bahkan menjadi bagian dari penanda jalan.

Anak-anak muda Maori bisa saja fasih berbahasa Inggris, tetapi mereka juga bangga bertutur dalam bahasa leluhur di media sosial. Mengapa Maluku tidak bisa melakukan hal yang sama? Apakah bahasa Taba atau Kayeli kurang bernilai dibandingkan Maori?

Persoalannya bukan sekadar teknis, melainkan politis dan kultural. Bahasa daerah selama ini diperlakukan sebagai “kelas dua”, tak punya gengsi di sekolah, apalagi di kantor pemerintahan. Anak-anak yang fasih berbahasa daerah sering kali dianggap “kurang modern”. Padahal, UNESCO sudah menegaskan: menguasai bahasa ibu justru memperkuat kecerdasan kognitif anak, bukan melemahkannya.

Kita pun punya modal besar: diaspora Maluku yang tersebar dari Belanda sampai Australia. Mereka bisa menjadi motor penggerak dengan kampanye digital, penggalangan dana, bahkan membuka sekolah bahasa daring.

Bayangkan kelas virtual di mana cucu Maluku di Rotterdam belajar bahasa neneknya langsung dari penutur asli di Banda. Ini bukan utopia, melainkan peluang yang realistis.

Hanya saja, peluang tanpa aksi ibarat janji politik menjelang pemilu: manis di awal, hambar di akhir. Kita butuh lebih dari sekadar dokumen roadmap atau Perda. Kita butuh keberanian untuk berkata pada anak-anak: “Kalau kamu bisa main Mobile Legends, kamu juga bisa bicara bahasa Nene Moyang.” Karena bahasa bukan sekadar warisan, melainkan fondasi masa depan.

Jadi, pada akhirnya, ini bukan soal meratapi masa lalu yang hilang, melainkan tentang memilih masa depan yang akan kita ukir. Apakah kita akan menjadi generasi yang membiarkan warisan lisan ini menguap, atau menjadi generasi yang berani mengambil alih kemudi?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab oleh white paper atau kebijakan pemerintah semata, melainkan oleh keputusan pribadi setiap keluarga di Maluku.

Sebab, bahasa bukanlah pesta yang bisa kita kunjungi setahun sekali. Bahasa adalah rumah yang harus kita rawat setiap hari. Ia hidup bukan di panggung festival, melainkan di percakapan sehari-hari; di celotehan anak-anak yang bertanya, di tawa para ibu di dapur, dan di bisikan mesra para kekasih. Di situlah pertarungan sesungguhnya terjadi.

Maka, mari kita renungkan, siapa yang akan kita dengarkan? Bisikan leluhur yang meminta kita menjaga api, atau deru kencang modernisasi yang menjanjikan kemudahan?

Jangan sampai kelak, kita hanya punya rekaman sejarah, tapi kehilangan jiwa dari setiap kata. Akankah kita membiarkan cerita ini berakhir dengan duka, atau justru memulai babak baru yang penuh harapan? Sejarah akan mencatat, dan kita semua adalah penulisnya.(Embong Salampessy)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button