KomunitasNasional

Wakili Ambon, Grizzly Nahusuly Ikut Merancang Ulang Ruang Kreatif di Cianjur

potretmaluku.id — Di sebuah ruangan di Gedung Cianjur Creative Center (CCC), aroma kopi bercampur dengan percakapan lintas kota dan lintas disiplin.

Awal Juli 2025, sejumlah pegiat kota kreatif dari berbagai daerah berkumpul dalam Kelas Ajar Cipta Ruang, sebuah laboratorium ide yang dirancang tak hanya untuk belajar, tetapi juga mencipta. 

Salah satunya adalah Grizzly Nahusuly, utusan dari Ambon Music Office (AMO) yang datang mewakili Ambon UNESCO City of Music.

Kehadiran Grizzly ke Cianjur bukan semata menjadi peserta. Ia membawa suara dari timur, dari kota musik yang juga sedang bergulat dengan pertanyaan tentang ruang: bagaimana ruang tidak sekadar dibangun, tapi diwariskan; tidak hanya fisik, tapi juga sosial dan kultural.

“Kami datang bukan hanya untuk belajar, tapi juga berbagi,” ujar Grizzly, yang dituturkannya kepada potretmaluku.id, Minggu, 6 Juli 2025. 

“Sebagaimana kami terus membangun ruang kreatif di Ambon, saya juga ingin menyerap bagaimana komunitas di Cianjur memaknai ruang hidup mereka,” sambung Deputi Kelembagaan dan Kerja Sama dari AMO ini.

Belajar dari Lokus: CCC, Kilometer 95, dan Bumi Ageung

Selama dua hari, para peserta diajak melakukan observasi langsung ke tiga titik yang menjadi contoh nyata transformasi ruang komunitas. Cianjur Creative Center (CCC) menjadi titik awal: sebuah gedung yang sebelumnya pasif, kini menjelma menjadi pusat kegiatan pemuda, literasi, hingga ekonomi kreatif.

Dari sana, rombongan menuju Kilometer 95 Kopi, sebuah tempat yang dahulu adalah bengkel kereta. Alih fungsi menjadi kedai kopi tak hanya memberi nafas baru bagi bangunan lama, tapi juga menjadikannya titik temu antar komunitas. “Kita seperti melihat bagaimana ruang bisa disulap jadi tempat tumbuh bersama,” kata Grizzly.

Yang paling mengesankan bagi Grizzly adalah kunjungan ke Museum Bumi Ageung, museum mandiri yang dikelola keluarga dari Bupati ke-10 Cianjur. 

Di sana tersimpan naskah-naskah tua, benda peninggalan kolonial, hingga arsip pribadi yang dirawat dengan penuh cinta. “Ini bukan hanya soal benda, tapi cara keluarga ini menjaga ingatan kota,” ucapnya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2Next page

Berita Serupa

Back to top button