Sekolah Tak Lagi Cocok: Ketika Anak-anak Memilih Menjauh dari Ruang Kelas
potretmaluku.id – Nash Clark tak pernah merasa cocok dengan bangku sekolah. Bukan karena tak mau belajar, tapi sistem pendidikan formal tak memberinya ruang untuk bernapas.
Nash hidup dengan autisme. Lima tahun lalu, ia berhenti total dari sekolah umum. Ibunya, Paula Clark, mengubah ruang tamu rumah menjadi ruang belajar dan mengambil alih tugas guru, bukan karena keinginan, tapi karena terpaksa.
“Setiap hari kami mendapat panggilan dari sekolah, disuruh datang menjemput. Sampai akhirnya, Nash mulai menolak berangkat. Ia tak tahan lagi,” kata Paula, mengenang masa-masa awal perjuangannya, sebagaimana dikutip ABC News, Minggu, 6 Juli 2025.
Nash bukan satu-satunya. Di Australia Selatan, semakin banyak anak menolak bersekolah. Mereka bukan tak ingin belajar, melainkan merasa sekolah tak mampu memahami mereka.
Menteri Pendidikan menyebut fenomena school refusal ini sebagai masalah serius, yang kian kompleks seiring meningkatnya kasus disabilitas, tekanan mental, dan kesenjangan dukungan di sekolah.
Kondisi ini membuat pemerintah negara bagian membuka kembali lembaran sistem pendidikan alternatif.
Sebuah tinjauan resmi kini tengah dilakukan, menggali akar permasalahan, mengevaluasi kapasitas, dan menata ulang model pendidikan non-arus utama agar lebih ramah bagi semua anak.
Setiap tahun, sekitar 10 ribu siswa di Australia Selatan tercatat mengikuti jalur pendidikan di luar sekolah umum: dari homeschooling, pembelajaran daring, hingga situs pembelajaran khusus.
Salah satu yang menaruh harapan besar pada tinjauan ini adalah Open Access College, lembaga yang menawarkan sekolah jarak jauh bagi siswa dengan hambatan fisik dan mental.
“Sebagian besar murid kami memang tak memungkinkan hadir di sekolah fisik. Ada yang trauma, ada yang sakit. Kami berharap tinjauan ini memperkuat model kami dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih manusiawi,” kata seorang guru dari Open Access College, kepada ABC News.
Namun tak semua pihak yakin langkah pemerintah akan cukup menyentuh kelompok yang paling rentan. Paula, misalnya, menyambut baik langkah ini, tapi tak bisa menahan kekhawatirannya.
“Saya bersyukur ada gerakan perubahan, tapi bagaimana dengan anak-anak seperti Nash? Mereka yang sudah keluar dari sistem, apakah masih ada tempat untuk kembali?” ujarnya pelan.
Sistem yang gagal merangkul tak hanya menciptakan jarak, tapi juga luka. Itulah sebabnya, tinjauan pendidikan kali ini tak hanya dimaknai sebagai evaluasi kebijakan, melainkan sebagai harapan, bahwa ruang belajar bisa hadir dalam berbagai bentuk, tak selalu empat dinding kelas, dan bahwa setiap anak punya cara belajar yang layak dipahami.
Tinjauan ini dijadwalkan rampung akhir tahun. Belum ada yang tahu ke mana arah akhirnya. Tapi bagi keluarga seperti Nash, bahkan secercah kemungkinan adalah kabar baik.(*/TIA)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



