“Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan.” Kata-kata ini merupakan qoutes dari Mario Teguh, seorang motivator kenamaan Indonesia kelahiran Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Qoutes Mario Teguh tersebut sebenarnya relevan dengan akademisi perempuan senior Maluku, yang tengah saya kisahkan ini.
Oleh : Dr. M.J. Latuconsina, S.IP, MA (Dosen Fakutas Ilmu Sosial Ilmu Politik – Universitas Pattimura)
Setiap mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pattimura (Fisip Unpatti) per angkatannya sejak dahulu, tidak asing lagi dengan Nety Sahetapy, atau lengkapnya Dr. Dra. Petronela Sahetapy, M.Si. Dosen perempuan cantik khas Ambon ini tinggi semampai, dengan kulit terang serta rambut agak bergelombang. Ia dikenal sebagai dosen yang “tegas” oleh para mahasiswa di kampus kuning yang berada di Wailela tersebut.
Sebenarnya Ibu Nety begitu panggilan akrabnya di salah satu kampus tertua di Unpatti ini, bukanlah seorang dosen yang “tegas” melainkan ia senang melihat suasana kehidupan kampus yang tertib. Misalnya saja tatkala ia lewat kedepatan para mahasiswa yang bergerombol di tangga naik lantai dua kampus. Bergerombolnya para mahasiswa itu, tentu sangat tidak nyaman bagi para mahasiswa, dosen, dan pegawai di kampus setempat untuk lewat.
Baca Juga: Rumitnya Dua Paslon Pilpres
Ia pun akan katakan dalam dialeg Malayu Ambon, “eh dong bakumpul banya-banya apa disini dong bubar”, dan para mahasiswa itu pun bubar dengan tertib. Begitu pula pernah saat ia menjadi Ketua Program Studi Admistrasi Publik, para mahasiswa bergerombol didepan pintu ruangannya untuk menandatangani KRS/DNS, sehingga tak nyaman dan tak elok dipandang mata.
Ia pun katakan dengan nada tegas “dong kaluar sana dolo lalu antri sesuai deng sapa yang masuk duluan untuk, jang bakumpul kaya ikang sambilan.” Para mahasiswa pun tertib mengikuti arahannya. Jika para mahasiswa sedang duduk di kampus, begitu ia hendak lewat mereka pada posisi tertib, dimana tidak membuat tindakan yang salah-salah, semua pada “takut” dimarahi olehnya.
Begitu pula pada suatu waktu ketika saya masih kuliah di kampus kuning ini di tahun 1996 lampau, saat ujian ada kawan saya yang rupanya tidak belajar, dan bingung mau isi apa dikertas ujian sambil ia melihat ke arah plafon. Tanpa sepengetahuannya Ibu Sahetapy pun berkata “barang ada oce pung apa di atas loteng nyong sampe manganga loteng bagitu.” Kita yang mendengarnya pada senyum-senyum diam-diam, “takut” dilihatnya jangan sampai kena marah.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



