MalukuMaluku UtaraPendapat

90 Tahun GPM: Pohon Besar di Tanah Maluku

PENDAPAT

Oleh: M. Ikhsan Tualeka (Pegiat perubahan sosial)


Hari ini, 6 September 2025, Gereja Protestan Maluku (GPM) merayakan ulang tahunnya yang ke-90. Angka itu lebih dari sekadar catatan waktu, namun menandai perjalanan panjang sebuah institusi yang telah menjadi bagian dari denyut kehidupan Maluku.

Sebagai seorang muslim yang lahir dan besar di Maluku, saya melihat perayaan ini bukan hanya sebagai milik umat Kristiani. 

Ulang tahun GPM adalah peristiwa penting bagi seluruh orang Maluku. Kehadirannya merentang melampaui batas agama, dan meneguhkan semangat orang basudara yang menjadi ciri khas kita.

Sejak awal, GPM hadir bukan hanya sebagai gereja, tetapi juga sebagai pilar sosial. Ia memberi ruang pendidikan bagi anak-anak Maluku, membuka akses kesehatan, dan menjadi wadah penguatan nilai kebersamaan. 

Banyak anak Maluku, tanpa memandang iman, pernah merasakan manfaat dari pelayanan ini. Dari sekolah hingga program kesehatan, GPM hadir di tengah masyarakat, menolong dan meneduh seperti pohon yang rindang.

Peran GPM semakin nyata ketika Maluku pernah dilanda konflik yang memorak-porandakan kohesi sosial dan meninggalkan luka mendalam. 

Dalam masa-masa yang sulit itu, GPM tampil menyeberangi batas denominasi, ikut merajut persaudaraan yang terkoyak, dan terus bersama menghidupkan kembali spirit hidop orang basudara. 

Dari sini kita belajar bahwa iman sejati bukan hanya soal ritual dan dogma, tetapi tentang keberanian hadir untuk menyembuhkan luka dan menegakkan kemanusiaan. Mempererat persaudaraan.

Kini, di usia 90 tahun, GPM telah menjadi pohon besar yang berakar dalam di tanah Maluku. Tapi perjalanan menuju abad berikutnya bukan tanpa tantangan. 

Perubahan iklim, degradasi lingkungan, masalah sampah, krisis sosial-ekonomi, dan arus globalisasi serta digitalisasi akan memengaruhi kehidupan masyarakat dan cara berpikir generasi muda.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2Next page

Berita Serupa

Back to top button