Pendapat

14 Kunci Menjadi Editor 

Kunci Menjadi Editor

Saya biasa bekerja sambil mendengarkan musik, dengar radio, sesekali menyiram tanaman, melihat tumbuhan hijau dan mekarnya bunga, atau mencandai kucing di depan rumah. Itu semacam tamasya yang menghadirkan kesegaran baru dan energi bagi hati dan pikiran. Namun, tidak lengkap rasanya bila belum ada kunci yang pertama, yaitu KOPI. Kopi di sini, bisa itu berupa kopi hitam, kopi susu, teh hangat, atau minuman dengan temannya: kudapan. Bisa kue-kue tradisional, keripik, atau kacang.

Kunci kedua adalah KUOTA DATA. Di abad sofistikasi teknologi ini, sulit membayangkan hidup dengan smartphone tanpa diisi kuota data. Kuota, jaringan internet, dan Wifi penting untuk berkomunikasi dengan klien (baca: yang punya buku), untuk mengkonfirmasi istilah, data, referensi, dan lain sebagainya.

Kunci ketiga adalah KAMUS. Misalnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Editor sebaiknya selalu bersentuhan dengan kamus, buku pintar, dan ensiklopedia, sebagai sumber rujukannya. Pada tahap ini, saya biasanya juga menyediakan dan mencari buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan naskah yang diedit. Buku-buku itu saya letakkan di samping agar mudah menjangkaunya.

Kunci berikut atau yang keempat adalah KOSAKATA atau perbendaharaan kata. Modal sebagai pembaca segala, akan sangat berguna menjadi seorang editor. Dengan terbiasa membaca banyak hal, setidaknya ikut menambah perbendaharaan kata, dan tentu saja menambah wawasan.

Kunci kelima adalah KAIDAH kebahasaan dan penulisan. Ini sesuatu yang perlu diperhatikan sebab punya aturan yang pasti. Karena saya seorang otodidak, maka biasanya saya melihat pola, lalu saya adaptasi. Saya banyak membaca dan menjadikan media-media mainstream seperti Harian Kompas dan Majalah Tempo, sebagai rujukan.

editor
Ilustrasi tumpukan majalah.(Foto Pixabay)

Seorang editor harus KRITIS, skeptis dan punya kemampuan analitis. Itu sebagai kunci keenam. Sikap kritis, skeptis, dan punya kemampuan analitis, merupakan kunci untuk bisa melihat kekurangan naskah. Kadang, suatu kalimat terlihat aman, tapi sesungguhnya mengandung pertanyaan soal kesahihan informasi dan fakta-fakta yang ditulis dalam naskah. Misalnya, ada kalimat “saya makan di tempat yang biasa disinggahi juga oleh kalangan selebritas”.

Pertanyaannya, benarkah tempat itu biasa disinggahi selebritas? Siapa saja selebritas yang pernah singgah di situ? Dan pertanyaan-pertanyaan indepth lainnya yang masih bisa dikembangkan.

Kunci ketujuh adalah KOMPETENSI. Maksudnya, kompetensi teknis yang terkait pengeditan dan penulisan buku. Juga kompetensi teknologi karena bersentuhan dengan komputer dan laptop, atau berselancar di dunia maya, yang membantu kemudahannya dalam bekerja.

Kunci kedelapan adalah KOMUNIKASI. Komunikasi merupkan soft skill yang diperlukan seorang editor untuk mengkonfirmasi, mengklarifikasi, atau memvalidasi informasi dalam naskah buku yang tengah dikerjakan. Dia perlu melakukan itu agar informasi dalam buku yang diedit menjadi jelas, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi jika punya nilai sejarah, berkaitan dengan pengetahuan umum, atau bersentuhan dengan orang lain.

Selanjutnya, kunci kesembilan adalah KONSISTENSI. Penggunaan istilah atau sapaan harus konsisten. Jika menggunakan kata “aku”, maka kata itu terus dipakai, jangan digonta-ganti dengan “saya”. Itu contoh konkretnya. Kunci kesepuluh adalah KETERBACAAN, yang memungkinkan naskah atau buku kita lebih mudah dipahami, lebih mengalir alur ceritanya, atau bangunan gagasannya terstruktur baik. Kunci kesebelas adalah KOMPREHENSIF atau KOMPLIT. Namanya juga buku, sebaiknya informasi yang disuguhkan juga kaya: data, informasi, perspektif, teori, dan lain-lain. Sudut pandang yang luas, juga akan membuat pembaca bisa menikmati buku tersebut. Ibarat kita menyantap makanan yang kaya bumbu, tentu akan lebih nikmat.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button