SDM Maluku Unggul dan Berkualitas: Antara Mimpi Besar dan Kenyataan Pahit, Pendidikan Adalah Kuncinya
Spirit Pattimura: Jiwa Perlawanan yang Masih Relevan
Di tengah keputusasaan ini, kita perlu menoleh sejenak ke belakang, ke tahun 1817, ketika seorang anak negeri bernama Kapitan Pattimura mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda. Bukan karena ia punya senjata canggih, bukan karena ia punya sistem logistik yang hebat, tapi karena ia punya semangat-semangat perlawanan, keberanian, ketahanan, dan cinta tanah air yang tidak bisa dibeli atau ditukar dengan apapun.
Spirit Pattimura ini bukan hanya sejarah untuk dikenang setiap 15 Mei, tapi warisan perjuangan yang harus menjadi inspirasi dalam membangun Maluku hari ini.
Jika dahulu Pattimura melawan penindasan kolonial dengan parang dan tekad baja, maka kini tantangan kita adalah melawan kebodohan struktural, ketimpangan digital, dan ketidakadilan birokrasi dengan senjata pendidikan.
Generasi muda Maluku tidak butuh lagi pahlawan baru. Mereka hanya butuh pemimpin yang punya keberanian dan visi yang sama seperti Pattimura pemimpin yang tak gentar melawan arus lama yang rusak demi masa depan yang lebih bermartabat.
Humor Pahit: Internet Ada, Tapi Tak Ada Gunanya
Mari kita sedikit ringan, dengan ironi yang menyakitkan. Beberapa sekolah di Maluku konon sudah memiliki komputer, tapi tidak ada listrik di siang hari. Internet pun katanya sudah masuk, tapi hanya menyala jika hujan tidak turun dan angin tidak terlalu kencang. Bayangkan betapa “pintarnya” murid-murid kita yang harus belajar IT pakai imajinasi.
Ini bukan fiksi. Ini kenyataan. Dan kenyataan ini akan terus terjadi kalau pemimpinnya hanya pintar bicara, tapi tak mau “turun gunung”, seperti yang diingatkan oleh Dr. Hasbollah. Pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tapi soal kehadiran, hadir secara fisik, hadir secara kebijakan, hadir secara keberpihakan.
Pertanyaannya sekarang: apakah mungkin membangun SDM Maluku yang unggul dan berkualitas dalam kondisi seperti ini?
Jawabannya bisa “ya”, tapi hanya jika dua hal ini dilakukan bersamaan: pertama, membersihkan pendidikan dari intervensi politik murahan. Kedua, menempatkan orang yang benar-benar paham pendidikan di posisi strategis, bukan sekadar tim sukses yang menunggu jatah.
Maluku tidak kekurangan orang pintar. Yang kita kurang adalah sistem yang adil dan ekosistem yang mendukung. Jangan heran kalau anak-anak kita yang berbakat malah memilih keluar dari daerahnya sendiri, karena di tanah kelahirannya, jalan menuju kesuksesan lebih mirip labirin penuh jebakan.
Sebuah Penutup yang Belum Selesai
Pendidikan adalah kunci, semua sepakat. Tapi apakah kita benar-benar berniat membuka pintu? Atau kita hanya terus memegang kuncinya sambil sibuk berfoto untuk pencitraan?
Pak Gubernur, rakyat menunggu, dan sejarah sedang mencatat. Anda mau dikenang sebagai pembuka jalan atau sekadar pengulang kegagalan?
Dan untuk kita semua: jika kita diam saja, apakah kita juga bukan bagian dari masalah itu sendiri?
Karena cerita ini belum selesai. Bahkan mungkin, baru saja dimulai.(Embong Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



