Sementara itu, pada salah satu sudut di kawasan Kudamati, seorang ibu muda bernama Yohana, bukan nama sebenarnya, menatap anjing peliharaannya dari balik pagar bambu. Anjing itu ia temukan di jalan setahun lalu, kedinginan dan kelaparan. Ia rawat seperti anak sendiri. Tapi kini, setelah mendengar ada korban jiwa di lingkungan mereka, Yohana ragu. “Beta sayang dia,” ujarnya pelan, “tapi kalau dia jadi ancaman, Beta harus ikhlas.”
Yohana akhirnya membawa anjingnya ke pos vaksinasi keliling milik Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Ambon. Ia adalah satu dari segelintir warga yang berani mengambil langkah preventif, meski dihantui stigma dan rasa bersalah dari tetangga yang belum memahami pentingnya vaksinasi rabies.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Ambon, Muhammad Addulaziz, dalam surat edaran resmi bahkan menyebut bahwa vaksinasi adalah tanggung jawab moral sekaligus hukum. Jika menolak, maka pemilik hewan bertanggung jawab penuh atas akibat yang ditimbulkan.
Di sisi lain, para petugas lapangan mereka yang menyuntik, mencatat, dan bahkan mengambil sampel otak dari anjing yang mati bekerja nyaris tanpa jeda. Salah satu dari mereka, drh. Even Luik, mengaku teleponnya nyaris tak pernah hening.
“Kadang tengah malam ada warga minta bantuan, kami datang,” ujarnya. Ia tak hanya membawa jarum suntik, tapi juga ketenangan. Di mata warga, dia adalah penyambung harapan. Bahwa masih ada yang peduli, bahwa negara tidak tinggal diam.
Namun, rabies bukan hanya tentang gigitan atau vaksinasi. Ia membuka jendela yang lebih lebar ke dalam persoalan dasar: komunikasi yang lemah antara pemerintah dan rakyat, pemahaman kesehatan publik yang belum merata, serta kebijakan yang seringkali hanya menyentuh permukaan, bukan akar persoalan.
“Jangan sayang anjing dari manusia,” kata Wali Kota dengan nada tegas. Tapi dalam hati masyarakat non muslim di kota ini yang banyak memelihara anjing, mereka bertanya bisakah kita menyayangi keduanya? Bisakah kita punya kebijakan yang tegas namun juga mengedukasi, yang tidak hanya mengancam tetapi juga mendampingi?
Noel kini masih dirawat. Luka fisiknya perlahan membaik, tapi luka trauma masih membekas. Ia belum berani jalan sendiri ke sekolah. Mama Lina pun masih berjaga tiap pagi, dengan hati waspada. Tapi hari-hari mereka sedikit lebih tenang sekarang. Ada secercah harapan di tengah ketakutan.
Ketika malam tiba dan suara jangkrik mulai mengisi udara Ambon yang lembab, Mama Lina duduk di depan rumahnya. Di pangkuannya, Noel tertidur. Anjing yang dulu menyerang mereka sudah tidak ada. Tapi bukan dendam yang tersisa melainkan pelajaran. Tentang pentingnya tahu, tentang betapa nyawa manusia tak boleh dikompromikan, dan tentang bagaimana kepedulian sejati tidak hanya datang dari podium, tapi dari rumah ke rumah.
Jika ada satu hal yang diharapkan warga Ambon hari ini, itu adalah keseriusan. Bukan sekadar program, bukan sekadar angka. Tapi langkah nyata yang berpihak pada kehidupan. Sebab setiap luka akibat rabies bukan hanya luka fisik, tapi juga pengingat: bahwa di balik seekor anjing yang menggigit, ada sistem yang harus lebih sigap dan manusia yang tak boleh ditinggalkan.(Embong Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



