Pendapat

Meregulasi Sopi: Jalan Tengah antara Pelarangan Total dan Kebebasan Tanpa Batas 

Oleh: Jusuf Nikolas Anamofa (Dosen STKIP Gotong Royong Masohi) 


Sopi di Maluku bukan sekadar minuman beralkohol tradisional, namun telah menjadi bagian dari identitas budaya, hadir di acara adat, pesta pernikahan, hingga pertemuan keluarga. Sopi juga berkaitan dengan ekonomi lokal karena pada tiap mata rantainya menghasilkan uang.

Tetapi keberadaan sopi sebagai minuman beralkohol juga bermasalah. Dari sisi agama, khususnya Islam, sopi terlarang untuk dikonsumsi.

Konsumsi sopi juga sering kali berujung pada persoalan sosial kemasyarakatan seperti perkelahian, kekerasan dalam rumah tangga, kecelakaan yang merenggut harta dan nyawa, dan lainnya. Dari sisi kesehatan, konsumsi sopi dapat menimbulkan masalah kesehatan kronis. 

Perdebatan tentang sopi sering kali buntu karena terjebak pada dua kutub ekstrem: melegalkan tanpa batas atau melarang total. Keduanya memiliki kelemahan sehingga jalan tengah terbaik adalah regulasi yang ketat dan adaptif. 

Tentu jalan tengah ini telah dipikirkan oleh para pengambil kebijakan di Maluku. Tulisan opini ini hanya ingin berbagi cakrawala pemaknaan terkait regulasi sopi yang kontekstual dalam kerangka mata rantai sopi di Maluku. 

Mengapa Pelarangan Total Gagal? 

Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan, pelarangan total terhadap komoditas dengan nilai ekonomi tinggi dan akar budaya kuat jarang berhasil.

Larangan hanya mendorong perdagangan ke jalur gelap, membuat produksi tak terpantau, kualitas berbahaya, dan pemasukan daerah nihil. Pelarangan total sopi di Maluku berpotensi memicu resistensi sosial karena sopi dianggap “warisan” yang menyatu dengan kehidupan masyarakat. 

Bahaya Legalisasi Tanpa Batas 

Sebaliknya, legalisasi penuh tanpa regulasi akan membuka keran produksi dan konsumsi tanpa kontrol. Industri sopi bisa berubah menjadi sekadar mesin keuntungan, mengabaikan risiko kesehatan dan keselamatan publik. Dampak sosial bisa lebih besar: konsumsi meningkat, usia peminum makin muda, dan kerugian kesehatan masyarakat membengkak. 

Mata Rantai Sopi, Titik Regulasi, dan Pemetaan Risiko 

Regulasi sopi yang efektif harus menyentuh setiap mata rantainya: 

Produksi: Kondisi saat ini adalah kegiatan produksi dilakukan secara tradisional di banyak tempat, sering kali melibatkan beberapa orang dalam kelompok, menggunakan teknik turun- temurun atau belajar secara otodidak dari platform digital. 

Kegiatan ini dilakukan diam-diam tetapi menghasilkan pendapatan yang cukup bagi perekonomian keluarga. Regulasi yang mungkin adalah terkait standardisasi kesehatan dan keamanan produk berupa alat, bahan, dan hasil, dalam hal ini kadar alkohol. 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button