Pendapat

Merayakan Iman dalam Persaudaraan: Natal dan Lebaran di Tanah Pela Gandong

PENDAPAT

Dalam beberapa perayaan besar, delegasi dari negeri pela/gandong datang secara resmi untuk menghadiri perayaan saudara pela/gandongnya.

Mereka disambut dengan adat, duduk bersama dalam satu meja, dan terlibat dalam seluruh rangkaian acara. Kehadiran ini bukan formalitas, melainkan penegasan bahwa identitas adat lebih tua dan lebih dalam daripada sekat-sekat sektarian.

Namun, penting disadari bahwa pela-gandong bukan warisan yang otomatis lestari. Modernisasi, urbanisasi, dan derasnya arus media sosial membawa tantangan baru.

Generasi muda Maluku tumbuh dalam dunia yang lebih individualistik, di mana relasi sosial sering kali dimediasi layar, bukan lagi ruang-ruang komunal.

Politik identitas dan narasi intoleransi yang beredar secara global juga berpotensi merembes ke ruang lokal. Dalam konteks ini, pela-gandong perlu dimaknai ulang agar tetap relevan.

Di sinilah relevan pemikiran Anthony Giddens tentang strukturasi: struktur sosial—termasuk adat—hanya akan hidup jika terus dipraktikkan oleh para pelakunya. Dengan demikian pela-gandong tidak cukup dihafal sebagai sejarah, tetapi harus dihidupi sebagai praktik.

Natal dan Lebaran menjadi momen strategis untuk mereproduksi nilai-nilai itu, menjadikannya pengalaman nyata bagi generasi baru, bukan sekadar cerita nostalgia.

Merawat pela-gandong juga berarti menempatkannya sebagai kekuatan moral dalam pembangunan Maluku. Hidup orang basudara bukan hanya nilai etis, tetapi juga modal strategis untuk menghadapi persoalan bersama: kemiskinan, kerusakan lingkungan, hingga tata kelola pemerintahan.

Bagaimanapun masyarakat yang saling percaya dan terikat kuat secara sosial akan lebih mudah berkolaborasi dan berbenah. Maju bersama.

Pada akhirnya, suasana Natal dan Lebaran di Maluku mengajarkan bahwa keberagaman tidak harus dikelola dengan kecurigaan, melainkan dirayakan dengan persaudaraan. Di tanah ini, iman dan adat bertemu dalam satu wajah kemanusiaan.

Pela-gandong menjadi penanda bahwa masa depan Maluku tidak dibangun dengan meniadakan perbedaan, tetapi dengan merawatnya dalam bingkai hidup orang basudara—sebuah nilai yang mesti terus bertumbuh, seiring majunya zaman dan kompleksitas tantangannya.

Dan untuk semua yang sempat membaca artikel pendek ini, terutama basudara Kristiani, saya/beta sampaikan selamat merayakan Natal dengan penuh cinta dan kasih, semoga damai dan bahagia selalu menyertai langkah kita.

Jakarta, 25 Desember 2025

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWSGOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button