Nasional

Menularkan Spirit Menulis di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara Takalar

Saya langsung mengajak keduanya bersalaman sebagai tanda sepakat menjadi bagian dari penulisan buku mereka. Itu artinya, saya akan sering ke sekolah dan desa ini hehehe.

Oh iya, ada bonus dari tuan rumah. Kami disuguhkan santap siang. Bolu bakar, nila goreng, ayam, raca-raca taipa, sayur daun pepaya, dan sop hangat, di tata membentuk formasi yang siap dicicipi.

“Rezeki makan itu kita tidak tahu, akan datang dari mana, dan dari siapa,” kata Bu Erma sambil mempersilakan kami.

Setelah bersantai sejenak, kami lalu diajak ke salah satu ruang kelas yang bersebelahan dengan ruang guru. Di sini sudah menunggu 50an siswa, mulai kelas 7 hingga kelas 9.

Karena pertemuan hari itu bukan kegiatan formal maka penyampaian yang saya berikan hanya berupa motivasi menulis. Bahwa mereka pun bisa menulis, punya karya dalam bentuk buku.

Saya perlihatkan buku-buku karya murid-murid SD yang saya bawa. Saya ajak mereka menulis apa saja, mulai dari hobi, aktivitas di sekolah, kegiatan di rumah, suasana desa, dan semua yang mereka mau ceritakan.

Saya optimis dan percaya pada potensi yang dimiliki setiap anak. Itu tercermin pada cita-cita yang mereka sampaikan, saat sesi perkenalan. Ada yang ingin jadi dokter, guru, polisi, anggota Kopassus, juga TikToker.

“Banyak orang hebat, tokoh besar, yang berasal dari desa, bahkan daerah terpencil. Kisah-kisah mereka menginspirasi, salah satunya karena dibubukan. Kita pun bisa menulis kisah kita sendiri, dan itu mesti dilakukan sejak sekarang,” imbuh saya di akhir pertemuan.

Menulis bagi saya bukan sekadar hobi dan profesi, melainkan panggilan dan gerakan. Pelan-pelan saya menularkan spirit itu pada sesiapa yang saya temui, sebagai cara membangun kesadaran kritis. (*)


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button