Menularkan Spirit Menulis di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara Takalar

Saya membawa beberapa buku untuk didonasikan. Ada pula buku karya murid-murid SD yang ditulis sebagai hasil kegiatan menulis kreatif dan pengembangan minat bakat (ektrakurikuler).
Juga ada buku kumpulan publikasi sekolah sebagai contoh konkret manfaat menulis dan pendokumentasian. Pengalaman mengembangkan inovasi sebagai best practice (praktik baik) ini adalah strategi pendekatan saya: tunjukkan dengan bukti!
Namun sebelum bertemu siswa di kelas, kami ke balla rate (rumah atas) untuk ngopi dan mencicipi penganan yang disediakan. Bangunan ini berada di areal sekolah, yang berfungsi pula sebagai kantin.
Dari rumah tradisional Makassar ini, terhampar di depan kami pemandangan Bendungan Pamukkulu nan indah.
Tampak Gunung Baturape di sebelah barat dan Gunung Cindako di sebelah utara. Sementara bebukitan di depannya membentuk layer-layer yang bayangannya memantul di permukaan air. Kabut yang menyaput di atas bebukitan kian memanjakan mata.
“View ini yang mahal,” kata saya sembari menyeruput kopi susu hangat yang dihidangkan.
Di rumah atas itu, saya bertemu Sirajuddin Daeng Pata’, kerabat Bu Erma yang juga seorang Pasinrik. Juga ada Andi Indra Mapparenta, jurnalis, serta Pak Rahman dan Pak Irfayandi, keduanya guru SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara.
Beruntung, saya juga bertemu dengan Pak Parawansa, Kepala Desa Kale Ko’mara, yang langsung akrab. Saya bilang, sudah menonton profil desa Kale Ko’mara dan pertunjukkan Tari Kolosal Dampang Ko’mara lewat kanal YouTube.
“Wah luar biasa, kita sudah nonton. Itu ide gila, bikin pertunjukan dengan melibatkan banyak orang,” kata kepala desa yang dalam usia mudanya, sudah kaya pengalaman itu.
Pak Parawansa berkeinginan pengalaman hidupnya dibukukan. Keinginan yang sama juga disampaikan oleh Pak Rahman, yang membagikan kisahnya selama menjadi guru di Tanimbar, Maluku Tenggara.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



