Pendapat

Menari di Atas Luka: Seni Merawat Damai di Saunulu

PENDAPAT

Oleh: Tamara Agustina Hurulean (Pegiat tari tinggal di Ambon)


Hari itu, sewaktu pagi ingin melahirkan mentari, kami menari di lapangan. Angin dari arah pantai membawa aroma tanah basah dari embun pagi. Saya bangun pukul setengah lima, menunggu waktu ibadah subuh selesai, lalu bersiap menuju rumah Nene Na.

Perempuan tua itu tinggal di ujung kampung Saunulu Kristen, bersama anak, menantu, dan cucu-cucunya. Kebaya dan rok yang saya kenakan pagi itu miliknya. Dengan riasan sederhana, kami berdua berjalan cepat menuju lapangan di tengah kampung, tempat budaya tahunan “kas turung tifa” akan dimulai.

Bunyi tifa pertama menggema, berat dan dalam. Di bawah sinar matahari yang baru menanjak, kami menari.

Bunyi yang Memanggil Pulang

Kas turung tifa adalah tradisi yang dilakukan setiap awal tahun di Saunulu, sebuah negeri di pesisir selatan Pulau Seram, Maluku Tengah.

Tradisi ini menjadi tanda tahun baru dimulai, ketika masyarakat dari dua negeri, Saunulu Kristen dan Saunulu Islam, berkumpul di rumah raja (ayalu) untuk menurunkan tifa dari tempat penyimpanannya. Di akhir Januari nanti, tifa itu akan “dinaikkan” kembali dalam ritual kas nai tifa.

Bagi orang Saunulu, tifa bukan sekadar alat musik. Ia adalah detak jantung negeri. Suaranya memanggil orang berkumpul, bernyanyi, menari, dan mengenang asal mula mereka. Sejak tifa diturunkan, suasana kampung berubah: anak-anak berlarian, ibu-ibu menyiapkan makanan, para lelaki memukul tifa dengan ritme yang semakin cepat.

Namun di balik kegembiraan itu, tersimpan ingatan lama. Saunulu pernah menjadi salah satu wilayah yang terhempas oleh konflik kemanusiaan Maluku tahun 1999–2000. Warga dari dua kelompok agama terpisah, sebagian mengungsi ke Seram Utara —Roho, Kanike, Wahai— dan sebagian ke Piliana. Rumah-rumah terbakar, kebun ditinggalkan, dan tifa-tifa senyap di tempatnya.

Dua tahun kemudian, pada 2002, masyarakat Saunulu bersepakat untuk kembali ke kampung mereka tanpa pengawalan militer. Keputusan itu diambil bersama antara pelayan jemaat, pemerintah negeri, saniri negeri, dan para tua-tua adat.

Mereka pulang lewat jalur darat menuju Tehoru dengan mengandalkan kekuatan yang sederhana tapi kokoh: basudara, rasa persaudaraan yang melampaui agama.

Sejak itulah, setiap bunyi tifa di Saunulu menjadi lebih dari sekadar bunyi. Ia adalah suara kepulangan.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button