Pendapat

Membincangkan Perubahan Kebudayaan: Pentingnya Contoh dan Perlunya Pembakti

Hal ini bukanlah hal mudah. Anggapan bahwa budaya adalah entitas yang atributif, tidak menguntungkan secara ekonomi, dan tidak memiliki gengsi, menciptakan jalan-jalan sunyi yang tidak banyak ditapaki. Manusia yang menjadi pembakti budaya yang sungguh-sungguh dan konsisten adalah sosok-sosok langka di dalam ruang-ruang sosial kita.

Pada titik inilah diskusi itu mengerucut pada kesamaan pandangan tentang betapa agensi (geliat gerak karsa dan kreativitas) manusia, menjadi aspek penting dalam upaya pemajuan kebudayaan.

Perubahan dalam kebudayaan adalah suatu keniscayaan. Manusia sebagai pencipta, penghayat, dan pewaris kebudayaan juga tidak dapat tidak berubah oleh karena kepentingan-kepentingan yang juga tidak statis.

Dalam situasi yang demikian, perlu ada aktor-aktor tertentu yang tumbuh dan memberikan dirinya sebagai pembakti bagi pemajuan kebudayaan daerah dengan segala risikonya. Kerja yang sedemikian sungguh-sungguh itu, dari perspektif konsep strukturasi Anthony Giddens menjadi pendorong untuk membentuk agensi manusia melalui signifikansi, membentuk dominasi, dan menumbuhkan legitimasi.

Seorang pembakti yang konsisten menjadi aktor sekaligus sumber wacana/pengetahuan dalam lumbung budaya adalah faktor penting (signifikansi) untuk berperan sebagai “suara-suara yang didengar” dalam relasi kuasa tertentu (dominasi) untuk menciptakan legitimasi; skemata peraturan normatif dalam sistem hukum yang ada. Jika kerja kebudayaan belum sampai memenuhi aspek-aspek tersebut, manusia hanya akan merutuk dan menuding sebagai manifestasi pelarian dari perasaan miris akan ketergerusan budaya sendiri.

Bung tahu, kenapa orang Maluku ini sering gagal?” tanya Bapa Atus dengan mimik serius di penghujung percakapan. Saya tersenyum sambil berusaha memikirkan jawabannya.

“Kita itu belum secara sungguh-sungguh hidup dalam wisdom. Alam kita kaya, otak kita cerdas, tetapi kita belum memanfaatkannya dengan baik untuk memanusiakan manusia. Kita gampang iri melihat kesuksesan orang lain; mudah bersikap negatif terhadap pencapaian orang lain. Kita mudah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan berbagai ajaran hidup yang telah diwariskan oleh orang-orang tua kita, termasuk nilai-nilai agama yang baik yang telah kita pegang. Sebenarnya, kita hanya perlu melakukan, memberi contoh; orang lain akan meneladaninya. Itulah pelayanan yang sesungguhnya terhadap sesama manusia,” paparnya.

Kata-kata Bapa Atus itu lalu membekaskan perenungan yang dalam di pikiran saya. Kami lalu menutup percakapan sore ini dengan mencicipi kue bluder sageru dengan segelas minuman sambil menyaksikan senja turun di Teluk Elpaputih.

Dalam perjalanan pulang menyusuri jalanan di bukit Karai yang permai, saya memastikan arti kata wisdom yang saya tahu diterjemahkan menjadi ‘hikmat’ dalam bahasa Indonesia.

Pada kamus yang saya unduh di gawai yang saya miliki, kata itu berarti ‘kebijaksanaan’, ‘pengetahuan’, ‘kebijakan’, dan ‘kearifan’. Semua kata ini berkaitan dengan manusia, pengetahuan, pikiran, dan tindakan. Semua diksi itu secara operasional adalah inti dari konseptualisasi kebudayaan.

Saya lantas mengingat pepatah tua: ‘tidak ada yang baru (di bawah matahari)’. Kebudayaan adalah inti kehidupan yang terkait dengan ingatan, pikiran, pengetahuan, dan tindakan. Ia tidak selalu harus dibarui, tetapi dinikmati dan dihayati.

Pada dimensi itulah, pembakti dan role model memperoleh ruang untuk hidup dan menghidupkan, tanpa harus banyak merisaukan perubahan atau minat dan kecintaan yang hilang secara perlahan. Mise owatneka.(*)

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button