Bayangkan jika prinsip ekonomi kolektif adat dipadukan dengan pembangunan modern, agar tak ada komunitas yang merasa terpinggirkan.
Itulah cetak biru perpetual peace untuk Maluku: bukan dengan menyalin model luar, tetapi dengan menggali dan memperbaharui akar lokal kita sendiri.
Maluku sebagai Laboratorium Perdamaian
Romawi mempelajari kekristenan untuk menguasai. Bangsa Eropa menekuni orientalisme untuk mendominasi. Negara modern sering mengelola Maluku dengan logika aparat keamanan. Semua itu melahirkan kerentanan baru.
Sebaliknya, Maluku punya pilihan lain: menjadikan adat sebagai instrumen perdamaian. Jika berhasil, Maluku bisa menjadi laboratorium dunia tentang bagaimana perpetual peace bisa tumbuh dari budaya lokal.
Sebuah pelajaran bagi dunia bahwa perdamaian sejati tidak selalu lahir dari traktat besar, melainkan bisa bertunas dari tradisi egaliter.
Untuk itu, harus ada studi yang mendalam tentang tatanan adat. Kita bisa belajar dari sejarah kolonialisme. Dulu, Belanda tidak hanya mengirimkan tentara dan pekerja VOC ke Maluku.
Mereka juga mengikutkan para antropolog untuk mempelajari secara mendalam masyarakat Maluku. Hanya dengan begitu mereka bisa menjajah kita ratusan tahun.
Hal ini sejalan dengan bagaimana bangsa-bangsa Eropa mempelajari Orientalisme. Bahkan, hampir semua universitas besar di Eropa dan Amerika Serikat memiliki jurusan khusus tentang studi ketimuran. Pengetahuan itu dipelajari agar bisa mendominasi.
Hari ini, kita justru harus mempelajarinya dengan tujuan sebaliknya: bukan untuk menjajah, melainkan untuk membebaskan; bukan untuk mendominasi, melainkan untuk membangun perdamaian.
Tugas Kita: Pulang ke Akar
Kant menegaskan bahwa perpetual peace adalah horizon moral: mungkin utopia, tetapi harus terus dikejar. Bagi Maluku, horizon itu tidak ada di luar, melainkan di dalam. Ia hidup dalam Musonipi, Pela Gandong, dan ikatan basudara.
Sebelum NATO, sebelum ASEAN, sebelum Uni Eropa, Hatuhaha sudah pernah memberi contoh. Tugas kita hari ini adalah pulang ke akar—menghidupkan kembali tradisi adat itu, memperluasnya ke seluruh Maluku, dan menjadikannya fondasi perdamaian abadi.
Karena sejatinya, orang Maluku sejak lama sudah berkata: “Ale rasa, beta rasa. Katong semua basudara.”(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



