Pendapat

Libido Para Pencari Kebenaran Ilmiah

Relevan dengan itu, ada baiknya kita meminjam pemaparan M. Yunus S.B. dalam karyanya berjudul “Minset Revolution Otimalisasi Potensi Otak Tanpa Batas” yang diterbitkan Jogja Bangkit Publisher di tahun 2014 lalu.

Hal ini sebagai frame berpikir kita, agar kita memandang media sosial bukanlah suatu ruang ilmiah, untuk berpikir ilmiah atau mencari kebenaran ilmiah disana, melalui suatu perdebatan antara para individu. Pasalnya ruangnya begitu sempit, yang tidak bisa menuntaskan perdebatan itu.

Atas dasar itu, M. Yunus S.B (hal : 82-83) memaparkan kerangka berpikir ilmiah. Menurutnya kerangka berpikir ilmiah itu berintikan suatu proses yang disebut dengan istilah logico-hypothetico-verifikasi, yang terdiri dari langka-langkah sebagai berikut ;

(a) perumusan masalah yang merupakan pertanyaab mengenai objek empiris dengan batas-batas yang jelas serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait dengan masalah tersebut,

(b) penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis merupakan argumentasi untuk menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antar berbagai faktor yang saling terkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan factor-faktor empiris yang relevan. Perumusan hipotesis merupakan jawaban sementara, atau dugaan terhadap pernyataan yang diajukan, yang materinta merupakan kesimpulan dalam kerangka berpikir yang telah dikembangkan.

Selanjutnya (c) pengujian hipotesis, merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk membuktikan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak dan (d) penarikan kesimpulan merupakan penilaian apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau diterima. Jika dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima.

Sebaliknya, jika tidak terdapat fakta yang mendukung hipotesis maka hipotesis itu ditolak. Hipotesis yang diterima dianggap bagian dari pengetahuan ilmu.

Dikatakannya, keempat langkah tersebut menjadi patokan utama, meskipun mungkin dalam penelitian yang sesungguhnya bisa saja berkembang berbagai variasi sesuai dengan bidang dan permasalahan yang diteliti.

Hubungan antara langkah-langkah tersebut tidak terkait secara statis, melainkan bersifat dinamis, karena proses pengkajian ilmiah tidak semata mengandalkan penalaran saja, melainkan juga menggunakan imajinasi dan kreativitas.

Mengakhirinya mengutip pendapat Albert Einstein, seorang fisikawan teoretis, kelahiran Ulm, Kerajaan Württemberg, Kekaisaran Jerman pada 14 Maret 1879 lantas meninggal di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat pada 18 April 1955 bahwa, “semua masalah penting yang kita hadapi tidak bisa dipecahkan dengan tingkat pemikiran yang sama dengan yang menciptakannya”.

Pendapat Albert Einstein itu menandaskan bahwa, ada kemajemukan dalam berpikir ilmiah, sehingga tidak bisa kita memaksakan suatu pemikiran ilmiah agar menjadi monolistik, seperti yang dikehendaki orang per orang, karena ilmu pengetahuan itu maha luas. Begitu pula kebenaran ilmiah itu majemuk.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button