Indonesia Tanah Air Beta
Betapa riuhnya Indonesia, jika setiap agama mengklaim bahwa dialah yang paling benar. Lalu, dengan klaimnya itu dia memonopoli semua tafsir agama demi eksistensinya sendiri. Hanya dia yang boleh mendirikan rumah ibadah. Hanya dia yang ber-Tuhan, selelebihnya kafir.
Tentu bukan itu hakikat filosofi yang di kandung sila pertama Pancasila, yang merupakan grundnorm kita. Penghormatan atas kebebasan beragama dan berkeyakinan spiritnya mestinya merujuk ke situ. Tunduk saja pada norma dasar itu, yang jadi penerang dan pengarah dalam pengembangan sistem hukum kita. Sehingga, hukum akan menjaga keteraturan kita sebagai bangsa yang majemuk. Demikian cita hukum kita yang mulia.
Begitupun, betapa runcingnya potensi konflik, jika setiap suku merasa paling berhak atas Tanah Air Indonesia. Merasa paling Indonesia dari suku-suku yang lain. Padahal, realitasnya, ada sebanyak 1.340 suku bangsa yang tersebar dan mendiami sekira 17.000 pulau, di negeri yang luasnya mencapai 1,905 juta kilometer persegi ini.
Suku-suku itulah yang menjadi identitas, membentuk kebudayaan, dan menjadi kekayaan nasional kita. Suku-suku itu punya daya adaptif yang luar biasa, mampu survive, pantang menyerah, dan punya segala inovasi peradaban hingga tiba pada kita, anak cucunya, di Abad XXI ini. Dari merekalah semestinya kita berguru dan mendapatkan pembelajaran.
Herawati Supolo-Sudoyo (Historia.id, 2017), memaparkan studi genetik yang dilakukan oleh konsorsium HUGO-Pan Asia. Disampaikan, semua populasi Asia Timur dan Asia Tenggara berasal dari gelombang pertama migrasi Out of Africa, terjadi sekira 40.000-60,000 tahun lalu. Sementara berdasarkan model Out of Taiwan, penyebaran penutur Bahasa Austronesia terjadi sekira 5.000-7.000 tahun lalu.
Baca Juga: Kenangan pada Kota Ambon dalam Lukisan Poster dari Masa ke Masa
Dalam pembentukannya menjadi manusia Indonesia, secara genetis terdapat empat gelombang migrasi. Gelombang awal, datang 50.000 tahun lalu, melewati jalur selatan menuju Paparan Sunda. Gelombang kedua, merupakan kontribusi dari Asia daratan, yang merupakan penutur Bahasa Astroasiatik.
Mereka berpindah ke selatan masuk ke Nusantara melewati Semenanjung Malaya, yang masih menyatu dengan Pulau Sumatera dan Kalimantan. Gelombang ketiga merupakan ekspansi dari utara, terjadi pada periode sekira 4.000 tahun lalu. Kelompok ini bermigrasi dari daerah China Selatan, menyebar ke Taiwan, Filipina, sampai ke Sulawesi dan Kalimantan. Gelombang keempat, terjadi pada zaman sejarah. Ini termasuk periode Indianisasi dan Islamisasi di Kepulauan Nusantara.
Peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman itu menjelaskan, dalam pengembaraan nenek moyang kita itu hingga ke Nusantara, mereka menghadapi berbagai kondisi lingkungan yang berubah-ubah. Lingkungan, seperti hutan, padang pasir yang kering, pinggir pantai yang bersuhu panas dan berkadar garam tinggi, serta sinar ultraviolet, dapat menciptakan variasi DNA. Empat gelombang migrasi yang melalui kepulauan Nusantara itulah yang jadi cikal bakal keragaman manusia Indonesia.
Pembauran juga berlangsung di antara masyarakat yang beragam itu. Pembauran terjadi lewat pergaulan, hubungan dagang, diplomasi budaya, dan lain sebagainya. Sekat antarsuku itu makin cair setelah banyak dari mereka yang kawin-mawin.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



