
Nilai tukar rupiah ketika krismosn, anjlok dari semula Rp2.500 menjadi Rp17.000 untuk setiap satu dolar Amerika. Karena itu, muncul ajakan sumbang emas sebagai bentuk solidaritas dan wujud patriotisme. Penggalangan emas saat itu ramai jadi bahan pemberitaan.
Hj Normi Palaguna termasuk yang saya wawancara, mengingat penyumbang emas banyak di antaranya ibu-ibu. Era itu populer istilah peran ganda, sebagai istri pejabat atau wanita karier, sekaligus ibu bagi anak-anaknya.
Sebagai istri Gubernur Sulawesi Selatan, Hj Normi Palaguna secara ex officio memegang jabatan sebagai Ketua Dharma Wanita Provinsi Sulawesi Selatan, dan Ketua Tim Penggerak PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Jadi beliau layak diwawancarai.
Di masa awal, agak sulit untuk bisa ikut nimbrung wawancara. Sebab, saya sering ditanya, dari radam mana? Saya jelaskan bukan dari radam, tapi radio siaran swasta yang punya program berita, seperti RRI.
Saya perlu perjelas, biar tidak salah persepsi. Karena kalau radam itu, lebih ke istilah radio liar, yang bersiaran tanpa mengantongi izin frekuensi. Namun, tetap saja pertanyaan serupa sering saya hadapi.
Untuk meyakinkan orang yang diwawancarai, saya akan menyebut nama program dan jam siarnya. Bila perlu hasil wawancara yang sudah ditayangkan, dibawa kepada yang bersangkutan sebagai bukti siaran. Bukti siarannya direkam pada kaset bekas, yang biasa dipakai untuk iklan.
Hasil wawancara dengan Ibu Hj Normi Palaguna juga demikian. Lazimnya, saya serahkan bukti rekaman itu kepada Humas Pemprov Sulawesi Selatan, Pak Junur, yang selalu mendampingi Bu Gub dalam kegiatan-kegiatan Dharma Wanita.
Bulan Desember merupakan momen saya banyak berinteraksi dan melakukan wawancara dengan Hj Normi Palaguna. Bagaimana tidak. Tanggal 7 Desember merupakan ulang tahun Dharma Wanita. Di tanggal 22 Desember ada Hari Ibu. Lalu ada Hari Kesatuan Gerak PKK, pada 27 Desember.
Saya beruntung, sering dapat jatah wawancara tersendiri, berbeda dengan wartawan lain, karena butuh penjelasan Bu Normi yang runtut. Tuntutan program acara SKETSA membuat wawancara dalam bentung taping itu perlu dilokalisir dari kemungkinan gangguan.
Biar alurnya rapi maka wawancara eksklusif akan lebih baik. Bila sudah ditayangkan, saya akan membawa bukti rekaman itu ke kantor Dharma Wanita di Jalan Mappanyukki, Makassar.
Kadang, saya juga ikut kunjungan kerja Hj Normi Palaguna di luar Makassar. Suatu ketika, saya ikut meliput ke Panti Jompo Tresna Werdha Gau Mabaji, di Gowa. Di Balai Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (BRSLU) ini, saya dan wartawan lainnya, melihat sepasang kakek-nenek menikah pada usia 70 tahun lebih.
Pulang dari sana, dengan menumpangi bus Damri, kami diajak makan Coto Sunggu di Jalan Sultan Hasanuddin, Sungguminasa.
Kunjungan saat itu mengingatkan saya pada liputan di Panti Werdha Theodora atau Rumah Theodora di jalan Sungai Saddang. Di panti jompo itu saya melihat kehidupan para lansia yang memprihatinkan. Beberapa di antara mereka masih punya anak tapi justru orang tuanya dikirim ke panti jompo.
Pernah pula, saya ikut kunjungan kerja di Politeknik Pelayaran Barombong. Setelah itu lanjut makan ikan bakar di sana. Beberapa teman yang makan dekat Bu Gub, mengaku tidak leluasa makan kepala ikan.
Mereka sungkan menyantap bagian kepala ikan, terutama bagian otaknya, yang kalau diisap akan menimbulkan bunyi. Padahal sudah ngiler.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



