Musik

Hela Napas: Merayakan Musik, Jeda, dan Kehidupan di Biara Nazareth, Ambon

MUSIK

Semua proses ini berlangsung di 88 Creative Lab, studio milik Clieforth Peimahul di Batu Gajah, Ambon. Dalam kurun waktu dua tahun, sebelas lagu akhirnya lahir, masing-masing dengan warna dan cerita yang berbeda:

1. The U
2. Berkat
3. Mandidi Love Story
4. Tahela to the Hill
5. Bololeng
6. Nongkifutura
7. What a Friend We Have
8. No Reason Ale
9. Wonderful Hands
10. Hela Napas
11. Believe Me Ma

Tak asal memilih nama, Hela Napas dipilih sebagai tajuk album ini karena Grizzly Cluive ingin mengajak pendengarnya untuk “sans dulu, gaisky, omsky, tansky!” sebuah ajakan untuk lebih rileks, menikmati hidup, dan merayakan momen-momen kecil yang sering kita abaikan.

hela napas
Hela Napas Foto: Dok. @kadanngikut

“Kadang kita terlalu sibuk dengan kehidupan, sampai lupa untuk menikmati apa yang ada di sekitar kita. Dengan album ini, saya ingin orang-orang punya ruang untuk melepaskan beban, merasa lebih ringan, dan menikmati perjalanan mereka sendiri,” ujar Grizzly Cluive.

Disko Rap, Nostalgia, dan Cita Rasa Ambon

Secara musikal, Hela Napas menawarkan sesuatu yang unik genre disko rap yang memadukan synthesizer dan gitar khas era 80-90an. Inspirasi dari musisi seperti Post Malone, Fiji Blue, dan indie pop terasa kental dalam aransemen musiknya.

Dengan tempo yang dinamis, melodi yang santai, dan sentuhan retro, album ini bukan sekadar ajakan untuk menikmati musik, tetapi juga untuk bergoyang.

Ada nuansa khas Ambon dalam album ini. Lirik-liriknya bermain-main dengan bahasa Melayu Ambon, Indonesia, dan Inggris, menciptakan pengalaman mendengarkan yang fleksibel dan luas jangkauannya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button