Pendapat

Hadiah Buku “Seandainya Saya Wartawan TEMPO” dari PRSSNI

Karena itu, ketika diadakan “Lokakarya Jurnalistik Radio” oleh PRSSNI, maka ini merupakan kegiatan pertama yang saya ikut. Kegiatan yang diadakan di Hotel Bahari (sekarang Mess Nala, milik TNI AL), Jalan Dr Sam Ratulangi, Makassar, pada 23-26 Agustus 1997 itu, juga merupakan pelatihan jurnalistik radio pertama di Sulawesi Selatan yang diselenggarakan PRSSNI.

Sesuai namanya, PRSSNI, pendirian organisasi ini digagas oleh tokoh-tokoh radio swasta di Indonesia. PRSSNI terbentuk setelah diselenggarakan Kongres I Radio Siaran Swasta se-Indonesia, di Balai Sidang Senayan Jakarta, pada tanggal 16-17 Desember 1974. Kongres ini dihadiri 227 peserta, mewakili 173 stasiun radio dari 34 kota di 12 provinsi.

Awal terbentuk, namanya adalah Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia. Nanti pada pelaksanaan Munas IV PRSSNI di Bandung, tahun 1983, kata “niaga” diganti dengan “nasional”, sebagaimana kepanjangan PRSSNI yang kita kenal sekarang.

Ketika Lokakarya Jurnalistik Radio yang saya ikuti diadakan, Ketua Pengurus Pusat PRSSNI, yakni Siti Hardiyanti Rukmana. Putri sulung Presiden Soeharto, yang akrab disapa Mba Tutut itu, terpilih sebagai Ketua PRSSNI pada Munas VI, di Jakarta, tahun 1989 (majalah.tempo.co). Mba Tutut ini yang menandatangani piagam peserta lokakarya.

Saya tak hanya mendapat piagam tapi juga buku, yang khusus diberikan sebagai hadiah peserta terbaik Lokakarya Jurnalistik Radio I, yang diadakan di Sulawesi Selatan. Buku “Seandainya Saya Wartawan TEMPO” itu dibubuhi tandatangan dan diberi catatan motivasi oleh semua trainer, yang merupakan dedengkotnya radio siaran di Indonesia.

Layla S Mirza dari Radio Mara 106.7 FM, Bandung, menulis: “Selamat datang di “hutan” jurnalistik.” Praktisi penyiaran yang juga seorang pengajar ini, punya nama asli Noor Achirul Layla, tapi akrab disapa mba Ea.

WhatsApp Image 2024 02 09 at 12.36.46
Penulis saat reportase wawancara dengan Bambang Wijoyanto, yang saat itu menjabat Ketua YLBHI, tahun 1999.(Foto: Dok. Penulis)

Di buku itu, Errol Jonatans, yang dikenal sebagai pelopor jurnalisme warga (citizen journalist) lewat Radio Suara Surabaya, menulis: “Sekali terjun pantang surut”. Radio Suara Surabaya, biasa disingkat Radio SS, diakui sebagai pengawal suara warga. Siaran radio ini begitu interaktif. Cerita orang kemalingan yang pelakunya tertangkap berkat siaran radio merupakan sedikit dari kisah sukses Radio SS.

Ada pula tanda tangan dan kalimat motivasi yang ditulis Zainal Suryohadikusumo dari Radio ARH, Jakarta. Bang Zen, begitu pria berkumis itu akrab disapa, menulis: “Mau jadi profesional, berhentilah semena-mena terhadap profesi.” Bang Zen belakangan banyak membantu penguatan kapasistas teman-teman radio komunitas. Radio ARH ini telah diakuisisi oleh MNC Media Group menjadi Global Radio 88.4 FM.

Djoko W Djahjo dari Radio Elbayu AM 954 Khz, Gresik, menulis dalam buku yang sama menulis: “Tarik penamu. Buka mulutmu. Bangsa lapar informasimu.” Elbayu itu nama call station dari Radio Elang Bayu Swara. Saya sempat melihat studio radio ini di Jalan KS Tubun, saat mengerjakan buku Kapolres Gresik, AKBP Adex Yudiawan, di tahun 2016.

Buku “Seandainya Saya Wartawan TEMPO” ini isinya berupa konsep jurnalisme yang jadi pedoman awak majalah berita mingguan tersebut. Buku ini bercerita seputar bagaimana menulis feature yang menarik. Tadinya hanya sebagai materi pelatihan bagi internal wartawan TEMPO. Namun setelah punya buku ini, saya jadi paham, mengapa TEMPO punya semboyan: mencoba menulis jujur, jelas, jernih, jenaka pun bisa. (*)

Makassar, 9 Februari 2024

indonesia tanah air beta
Penulis, Rusdin Tompo.(Foto: Dok. Pribadi)

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button