Nasional

Engelina Pattiasina: Jangan Lupakan Aksi Heroik Pelaut Timor, Maluku dan Minahasa di Kapal Zeven Provincien!

potretmaluku.id – Engelina Pattiasina, Direktur Archipelago Solidarity Foundation, angkat bicara tentang peristiwa Kapal Zeven Provincien, mengingatkan bangsa akan keberanian pelaut Indonesia yang terlupakan.

Negara ini seolah mengidap amnesia sejarah. Peristiwa Kapal Zeven Provincien, pemberontakan heroik para pelaut Indonesia yang mengguncang pemerintahan Hindia Belanda pada 1933, nyaris terlupakan. Padahal, perlawanan yang dimotori pelaut asal Ambon, Timor, dan Manado (ATM) ini menjadi pemicu berbagai peristiwa penting setelahnya.

“Sangat memprihatinkan karena keberanian tokoh perlawanan di Kapal Zeven Provincien ini dilupakan dalam catatan sejarah,” ujar Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina, Direktur Archipelago Solidarity Foundation, kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Engelina menyebut nama-nama seperti Martin Pa Radja dari Timor, JK Kawilarang, WM Rumambi dari Manado, J Parinussa, Tuhumena, dan JPelupessy dari Maluku, serta beberapa pelaut Belanda yang terlibat dalam peristiwa tersebut. 

“Ada 23 korban meninggal akibat pemboman terhadap Kapal Zeven Provincien di Selat Sunda pada 10 Februari 1933, tapi generasi setelahnya melupakan keberanian para pelautnya untuk melawan ketidakadilan,” jelasnya.

Peristiwa Kapal Zeven Provincien, yang terjadi pada 4-10 Februari 1933, merupakan aksi merebut dan mengambil alih kapal perang Belanda. Tindakan ini bukan perkara mudah, membutuhkan nyali besar di tengah dominasi kolonial. Engelina menyayangkan, para elit negara justru sibuk membangun narasi kepahlawanan yang mengabaikan para pahlawan sejati.

“Tokoh perlawanan di Kapal Zeven Provincien sudah tidak ada, para pemimpin perlawanan seperti Pa Radja dan Rumambi bahkan menjadi korban meninggal ketika kapal dibom bersama 17 orang lainnya yang meninggal seketika,” ungkap Engelina. 

“Kalau kita melupakan mereka saat ini, maka mereka bukan hanya dibunuh Belanda, tetapi kita membunuh mereka untuk kedua kalinya. Terhempas dari narasi sejarah dalam kesunyian.”

Engelina mengapresiasi adanya jalan Marthin Pa Radja di Kota Kupang, namun menekankan bahwa Marthin Radja bukan hanya milik orang Timor, melainkan milik Indonesia yang pantas memberikan pengakuan yang layak atas pengorbanannya.

Ia mengingatkan agar generasi dan elit tidak terbawa narasi era kolonial yang memberikan stigma negatif kepada para pejuang yang melawan ketidakadilan. “Apakah cara pandang kita sudah seperti kolonial, sehingga tidak ada tempat bagi para martir?” tanyanya.

Engelina mengutip tulisan Maud Boshart, salah satu pimpinan perlawanan yang merupakan warga Belanda, yang menyatakan bahwa Pemberontakan di “Zeven Provincien” merupakan pendahuluan dari peristiwa-peristiwa luar biasa di Indonesia.

Pemberontakan ini adalah pengalaman luar biasa yang diperoleh dalam perjuangan melawan kapital, membuktikan kekuatan aliansi antara kaum pekerja Belanda dan rakyat tertindas Indonesia.

Engelina berharap pemerintah daerah, Kemensos, dan Kemendiknas meninjau kembali peristiwa ini sehingga memiliki porsi yang sepantasnya dalam sejarah perjalanan bangsa. Para pelaut pemberani itu mengambil alih kapal perang yang merupakan kebanggaan Belanda.

“Jangan sampai kita menjadi generasi yang amnesia,” tegas Engelina.

“Angkatan Laut dan berbagai elemen penting di negara ini melupakan peristiwa yang menurut saya sangat penting. Mungkin terlalu sibuk, sehingga lupa untuk menabur bunga dan berbagai acara lain sebagai pengingat bahwa ada generasi bangsa ini yang berani melawan penindasan kolonial di atas kapal perang kolonial.”

Engelina mengingatkan, perjuangan untuk bebas dari kolonial bukan hanya milik segelintir tokoh, tapi ada banyak nyawa dan pengorbanan dari berbagai etnis.(TIA)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button