Ekspedisi Wanadri 2025 Berhasil Capai Tebing Kaku Mahu di Pulau Buru

potretmaluku.id – Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri akan menggelar kegiatan bertajuk Ekspedisi Wanadri 2025: Rediscover Buru.
Organisasi pecinta alam yang berdiri sejak 1964 ini membawa empat pilar utama dalam setiap aktivitasnya: pendidikan, penjelajahan, kemanusiaan, dan lingkungan.
Sebagai pembuka dari rangkaian ekspedisi di Pulau Buru, tim pemanjatan yang dipimpin Jihan Syafira mulai beroperasi pada 28 April 2025.
Tim menyasar Tebing Kaku Mahu di Kecamatan Kepala Madan, dengan pendekatan awal melalui jalur pegunungan dari Desa Nanali.
Untuk mencapai dasar tebing, para anggota tim harus menembus hutan belukar di bentang karst yang terjal. Proses ini memakan waktu enam hari, melibatkan sistem pendorongan logistik secara bertahap, sebelum akhirnya tiba di titik basecamp.
Puncak ekspedisi terjadi pada 8 Mei 2025 pukul 10.45 WIT, ketika tim berhasil mencapai Puncak Kaku Mahu (03°14’17” LS – 126°04’22” BT) setelah enam hari pemanjatan.
Rute vertikal yang mereka tempuh sepanjang 350 meter dengan total tujuh pitch pemanjatan dan tambahan 300 meter scrambling menuju puncak.
Cuaca ekstrem dan kondisi batuan yang rapuh menjadi tantangan tersendiri. Hampir setiap hari hujan deras mengguyur area pemanjatan.
Tim juga harus bermalam empat malam di tebing (hanging camp), memastikan keselamatan tetap terjaga di tengah keterbatasan ruang dan kondisi alam.
Pegunungan Kepala Madan dikenal memiliki kontur karst dengan tebing-tebing curam dan puncakan di atas 2.000 meter di atas permukaan laut.
Formasi batuan yang terbentuk dari pelarutan kapur ini menyuguhkan lanskap dramatis sekaligus medan yang berat.
Dalam ekspedisi ini, turut serta seorang peneliti dari Mahatva – Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia bertugas mengumpulkan sampel flora dari sepanjang jalur dan area puncak.
Sampel tersebut akan dianalisis lebih lanjut di laboratorium kampus untuk kepentingan riset ekologi kawasan karst tropis.
Setelah menyelesaikan misi pemanjatan, tim kembali ke Desa Nanali untuk pemulihan dan pembersihan peralatan. Selanjutnya, mereka akan menggelar coaching clinic bagi para pecinta alam lokal.
Program ini juga mencakup pembuatan jalur sport climbing permanen di salah satu tebing dekat desa.
Tim menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung ekspedisi, mulai dari warga Desa Nanali, tokoh masyarakat, pihak universitas, pemerintah kabupaten, hingga lembaga penyelamat dan sponsor.
Ekspedisi ini menjadi tonggak baru dalam pengembangan pengetahuan, konservasi, dan pembinaan komunitas lokal di Pulau Buru.(*/BAR)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi





