BSAN “Rasa” LKLB di Maluku: Menjawab Tantangan Segregasi dan Trauma Sosial
Bagian kedua dari dua tulisan
Tentu saja, hal ini sama sekali tidak berarti bahwa sekolah bersikap tertutup (eksklusif) terhadap urusan selain BSAN-LKLB. Sekolah, bagaimana pun, harus selalu dan selamanya inklusif berikut menjadi medan proses bagi tiap peserta didik untuk membentuk, mengembangkan, memperkuat, dan mewarisi karakter sekaligus mentalitas generasi muda teladan, pewaris kepemimpinan masa depan, di Maluku.
Ketiga, mungkin ini terlelu ideal, yaitu “rekayasa” Sekolah Model BSAN-LKLB sebagai peluang (opportunity) sekaligus kekuatan (strength) untuk menyatakan “misi suci” BSAN-LKLB di Maluku. Maksudnya, Sekolah Model BASN-LKLB, dalam desain masa depan, dimimpikan pada saat nanti bisa bertransformasi menjadi sebuah Sustainable Early Warning System (SEWS) yang tidak saja menawarkan jalan “surga” penyelesaian perkara tantangan segregasi dan trauma sosial pasca konflik di Maluku, tapi sekaligus juga menjadi langkah yang sifatnya preventif dan mitigastif untuk menghadirkan sebuah tatanan semesta kehidupan orang basudara yang mengandaikan keniscayaan rasa aman, nyaman, damai, dan harmoni sebagai kebutuhan di Maluku.
* * *
Akhirnya, sebagai pengunci tulisan, tidaklah keliru atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang dipantaskan manakala masyarakat Maluku memberi apresiasi nyata kepada Institut Leimena, Sasakawa Peace Foudation (SPF), Templeton Religion Trust, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Gereja Protestan Maluku (GPM), Yayasan Pembinaan Pemdidikan Kristen Dr. J.B. Sitanala, dan Yayasan Sombar Negeri Maluku, yang telah menaruh perhatian sangat serius terhadap dampak signifikan dari konflik Maluku, menginisiasi gagasan dan konsep untuk menjadikan pendidikan sebagai panacea penyembuh “penyakit” segregasi dan trauma sosial, hingga menghadirkan serentetan kegiatan LKLB dan Sekolah Model Percontohan BSAN “Rasa” LKLB di Maluku.
Penting dicatat, sedari LKLB Ke-1 hingga TOT BSAN-LKLB Ke-7, Maluku telah memiliki 296 alumni LKLB (Indonesia: lebih 12.000 alumni). Selain, karena musik dipakai sebagai pendekatan LKLB di Maluku, satu-satunya model LKLB di Indonesia, saat ini sudah tercipta 35 lagu berisi pesan perdamain, apresiasi terhadap kearifan lokal, dan keniscayaan realitas orang basudara, buah karya para guru dan kepala sekolah, alumni LKLB Maluku.
Dan, yang bikin bangga adalah salah satu dari lagu-lagu itu telah dinyanyikan oleh beberapa guru mewakili alumni LKLB Maluku di forum International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy (ICCCRL) 2025, di Jakarta. (*)
[*] Penulis adalah pegiat Sombar Negeri Maluku (NGO), tinggal di Tulehu.

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



