Pendapat

Berkarya Sudah 40 Tahun, Goenawan Monoharto Diganjar Penghargaan dari Badan Bahasa Kemendikdasmen RI

PENDAPAT

Selepas mengikuti pelatihan teater, bersama Kadir Ansari, Rasyid Ruppa, Ajiep Padindang, dan Muliati, dia membentuk grup teater yang diberi nama Teater Studio Makassar. 

Teater ini sudah belasan kali menggelar pentas dari Makassar sampai ke Jakarta. Grup Teater Studio Makassar terakhir pentas sebelum wabah Covid 19 menyerang bumi.

Beberapa kali pentas di Graha Bakti Budaya, TIM Jakarta. Bermula pada tahun 1982, ketika tampil dalam drama “Samindara” bersama Teater Makassar, dengan sutradara Aspar Paturusi. 

Pada tahun 1985, tampil dalam “Perahu Nuh 2”, bersama Teater Makassar, dengan sutradara Aspar Paturusi. Kemudian pada tahun 1995, tampil dalam pertunjukan “Karaeng Pattingalloang” bersama Teater Makassar, yang dipentaskan di Solo, dengan sutradara Jacob Marala.

Goenawan kembali tampil dalam pertunjukan “Perahu Nuh 2”, tapi kali ini bersama mahasiswa IKJ, dan pentas di Graha Bakti Budaya TIM Jakarta, dengan sutradara Aspar Paturusi. 

Pada tahun 2018, tampil dalam pementasan “Lagoa Wanted” di Graha Bakti Budaya TIM Jakarta. 

Pementasan berikut yang pernah diikuti, yakni “Tomanurung Baine”, produksi LAPAKKSS, dengan sutradara Yudhistira Sukatanya di Kutai, Kalimantan Timur, pada tahun 2025.

Di bidang sastra, Goenawan Monoharto aktif menulis puisi, cerita pendek dan kritik teater. Awalnya, dia belum berminat menerbitkan buku. Apalagi, kala itu, masih banyak kendala yang dihadapi untuk bisa menerbitkan buku. 

Dia berasumsi bahwa menerbitkan buku itu susah dan mahal. Sebab dia belum mengetahui teknologinya. Kalaupun ada buku yang dia terbitkan, sifatnya hanya stensilan. 

Faktor inilah yang menjadi semacam ‘dendam’ mendalam bagi seorang Goenawan Monoharto.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button