Ada kota yang tumbuh dengan melupakan ingatannya. Ada pula kota yang terus diuji justru karena ia menyimpan terlalu banyak ingatan. Ambon termasuk kategori yang kedua.
Membaca buku “Ana Makassar Basar di Ambon” karya sahabat saya Rusdin Tompo, yang baru diluncurkan di ruang Museum Kota Makassar, Senin, 22 Desember 2025 lalu, di tengah dinamika sosial Kota Ambon hari ini, terasa seperti menempatkan dua cermin saling berhadapan.
Satu memantulkan wajah kota dalam ingatan personal yang hangat, satu lagi memantulkan realitas kota kontemporer yang kerap tegang dan rapuh. Di antara dua pantulan itulah, kita dipaksa bertanya: apa yang berubah, dan apa yang perlahan hilang?
Buku Rusdin yang dia harapkan bisa juga diluncurkan di Ambon ini, adalah kumpulan tulisan kenangan, tentang masa kecil, keluarga, kampung, sekolah, pasar, dan perjumpaan lintas etnis, yang sebelumnya terbit secara rutin di media siber potretmaluku.id. Namun ketika disatukan menjadi buku, tulisan-tulisan itu menjelma lebih dari sekadar memoar. Ia menjadi arsip sosial tentang Ambon sebagai kota perjumpaan.
Sebaliknya, tulisan Ikhsan Tualeka pada media yang sama (https://potretmaluku.id/arbes-konflik-urban-tantangan-sosial-dan-panggilan-persatuan-di-ambon/) tentang konflik urban di Kawasan Air Besar (Arbes) menempatkan kita pada Ambon hari ini. Sebuah kota yang tumbuh cepat, padat, dan berada dalam tekanan sosial yang nyata. Arbes bukan sekadar lokasi konflik, melainkan simbol dari tantangan kohesi sosial kota yang terus membesar.
Dua teks ini, yang satu personal dan reflektif, yang lain analitis dan kontekstual, jika dibaca berdampingan, menghadirkan satu narasi utuh tentang Ambon: kota yang pernah hidup dalam kedekatan, dan kini diuji oleh jarak.
Ambon dalam Ingatan: Kota Perjumpaan Sehari-hari
Dalam “Ana Makassar Basar di Ambon”, Ambon tidak digambarkan sebagai kota konflik, apalagi kota trauma. Ia hadir sebagai ruang hidup yang akrab. Orang Makassar, Bugis, Buton, Jawa, Ambon asli, Tionghoa, semua ada, semua berbeda, tetapi perbedaan itu tidak menjadi pokok soal.
Identitas dalam buku setebal 196 halaman ini tidak dipertontonkan. Ia bekerja diam-diam melalui logat, makanan, cara menyapa, kebiasaan pasar, dan relasi tetangga. Rusdin menulis Ambon bukan dari menara gading analisis, melainkan dari ketinggian mata anak kampung, yang melihat kota sebagai rumah bersama.
Air Putri, Batu Gantung, Pasar Wainitu, Talake, Galunggung, semuanya hadir bukan sebagai nama tempat, melainkan sebagai ruang sosial. Di sanalah perjumpaan terjadi, perbedaan dinegosiasikan, dan konflik kecil diredam oleh kedekatan.
Yang penting dicatat: buku ini tidak menutupi fakta bahwa perbedaan ada. Tetapi perbedaan tidak dibesarkan menjadi identitas yang kaku. Ia dibiarkan cair, hidup, dan sehari-hari. Inilah Ambon yang direkam Rusdin: kota yang kohesi sosialnya tidak dibangun lewat slogan persatuan, melainkan lewat praktik hidup bersama.
Namun kota tidak pernah berhenti bergerak. Ambon hari ini bukan Ambon empat atau lima dekade lalu. Ia tumbuh, menebal, dan mengalami tekanan khas kota kecil yang membesar terlalu cepat.
Tulisan Ikhsan Tualeka tentang Arbes menjadi penanda penting. Ia tidak melihat konflik sebagai peristiwa berdiri sendiri, melainkan sebagai gejala dari dinamika urban yang lebih luas. Arbes adalah kawasan dengan mobilitas tinggi, kepadatan penduduk, dan keberagaman latar sosial yang kuat, sebuah potret mini dari Ambon kontemporer.
Di ruang seperti ini, gesekan mudah terjadi, terutama ketika:
- akses ekonomi tidak merata,
- anak muda kehilangan ruang ekspresi dan kesempatan,
- komunikasi antarkelompok melemah,
- dan ingatan konflik masa lalu belum sepenuhnya pulih.
Konflik, dalam konteks ini, bukan semata soal kebencian atau sentimen identitas. Ia sering kali lahir dari kecemasan sosial yang tak terkelola. Identitas kemudian menjadi bahasa paling cepat untuk menyalurkan frustrasi.
Ikhsan mengingatkan kita pada satu hal penting: perdamaian bukan kondisi yang bisa diwariskan begitu saja. Ia harus terus dipelihara, terutama di kota yang terus berubah secara sosial dan demografis.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



