Dari Kota Akrab ke Kota Berjarak
Jika kita tarik garis penghubung antara buku Rusdin dan refleksi Ikhsan, kita akan menemukan satu pergeseran besar: perubahan dari kota yang akrab menjadi kota yang berjarak.
Dulu, orang mungkin berbeda asal, tetapi saling mengenal. Sekarang, orang bisa tinggal berdekatan, tetapi tidak saling tahu. Kota membesar, tetapi ruang perjumpaan menyempit. Pasar digantikan oleh ruang transaksional yang anonim, halaman rumah digantikan oleh tembok, dan percakapan digantikan oleh prasangka.
Di sinilah konflik urban menemukan lahannya. Bukan karena nilai-nilai lama lenyap, tetapi karena mekanisme sosial yang dulu menjaga nilai itu tidak lagi bekerja secara alami.
Buku Rusdin merekam Ambon ketika mekanisme itu masih hidup. Tulisan Ikhsan menunjukkan Ambon ketika mekanisme itu mulai rapuh.
Dalam konteks inilah “Ana Makassar Basar di Ambon” menjadi penting, bukan sebagai bacaan nostalgia, melainkan sebagai modal perdamaian kultural.
Buku yang merekam Ambon era 70-an sampai 80-an ini, mengingatkan bahwa Ambon pernah memiliki tradisi hidup bersama yang kuat, tradisi yang tidak tertulis dalam kebijakan, tetapi hidup dalam keseharian. Tradisi yang mengandalkan kedekatan, bukan pengawasan; relasi, bukan regulasi.
Perdamaian dalam buku ini tidak diceramahkan. Ia hadir melalui cerita kecil: bermain bersama, bertetangga, berbelanja di pasar yang sama, berbagi ruang tanpa rasa curiga berlebihan. Inilah bentuk perdamaian yang paling tahan lama, karena tumbuh dari pengalaman, bukan dari dokumen.
Sementara Ikhsan, dalam tulisannya, seolah mengingatkan bahwa ketika pengalaman bersama itu hilang, perdamaian menjadi rapuh. Kota membutuhkan lebih dari sekadar aparat dan aturan. Ia membutuhkan ruang perjumpaan sosial yang memungkinkan orang saling melihat sebagai manusia, bukan sebagai label.
Di sinilah peran literasi dan penulisan menjadi relevan. Buku Rusdin dan tulisan Ikhsan menunjukkan dua wajah literasi kota: yang satu merawat ingatan, yang lain mengingatkan bahaya. Keduanya penting. Kota tanpa ingatan mudah kehilangan arah. Kota tanpa refleksi kritis mudah mengulangi kesalahan.
Ambon hari ini membutuhkan keduanya: cerita yang menghangatkan dan analisis yang menyadarkan. Bukan untuk saling meniadakan, tetapi untuk saling melengkapi.
Dalam dunia yang semakin cepat dan reaktif, cerita-cerita personal seperti yang ditulis Rusdin justru berfungsi sebagai penyeimbang. Ia mengajak kita melambat, mengingat, dan melihat kota bukan sebagai peta konflik, melainkan sebagai ruang hidup yang pernah, dan masih bisa, dirawat bersama.
Kota Tidak Kekurangan Nilai
Ambon tidak kekurangan nilai. Ia hanya sedang diuji oleh perubahan.
Membaca Ana Makassar Basar di Ambon bersamaan dengan refleksi Ikhsan Tualeka, memberi kita satu pelajaran penting: perdamaian bukan sesuatu yang selesai, dan kota bukan sesuatu yang statis. Keduanya adalah proses yang harus terus dijaga.
Jika konflik urban hari ini adalah alarm, maka ingatan tentang hidup bersama adalah peta. Alarm mengingatkan bahaya. Peta menunjukkan jalan pulang.
Dan barangkali, di tengah hiruk-pikuk Ambon hari ini, buku seperti Ana Makassar Basar di Ambon, justru bekerja dalam senyap, menjaga ingatan tentang kota yang pernah akrab, agar Ambon tidak kehilangan dirinya sendiri ketika terus membesar.(Embong Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



